Jokowi Bukan Kita Lagi!
Kompas.com News Nasional
Menuju Pemilu 2024
Ari Junaedi Akademisi dan
konsultan komunikasi Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian
Politik Nusakom Pratama.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jokowi Bukan Kita
Lagi!", Klik untuk baca: https://nasional.kompas.com/read/2023/10/17/06000051/jokowi-bukan-kita-lagi-?page=1.
Kompas.com - 17/10/2023, 06:00 WIB
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jokowi Bukan Kita
Lagi!", Klik untuk baca: https://nasional.kompas.com/read/2023/10/17/06000051/jokowi-bukan-kita-lagi-?page=3.
Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Editor Sandro Gatra
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jokowi Bukan Kita Lagi!", Klik untuk baca: https://nasional.kompas.com/read/2023/10/17/06000051/jokowi-bukan-kita-lagi-?page=3.
Editor : Sandro Gatra
JPS, 17 Oktober 2023.
Kolom
Kuda Troya Rentan Jokowi
Edward Wirawan
https://news.detik.com/kolom/d-7576216/kuda-troya-rentan-jokowi?mtype=mpc.ctr.B-boxccxmpcxmp-modelB
Jakarta - Majalah Time, Oktober 2014 menjadikan
Jokowi sebagai cover dengan judul A New Hope. Time memotret apa yang terjadi di
Indonesia; Jokowi adalah kita. Tetapi puncak kuasa membuat orang lupa dan
kemaruk. Kekuasaan cenderung korup; disalahgunakan (Acton, 1834-1902). Bagi
mahasiswa ilmu politik, membaca Acton adalah pengantar wajib. Konsep ini saya
ajukan pada awal sebagai hipotesis: Jokowi sedang sibuk menyusun keberlanjutan
pengaruhnya di pemerintahan yang akan datang.
Dugaan itu semakin masuk akal dengan isu tiga
periode dan segala konstelasi jelang Pilpres 2024. Tapi kecenderungan itu tak
berhenti di sana. Gibran di Istana tanpa sokongan partai politik. Jokowi sadar
realitas itu. Jalan pulang ke PDIP begitu terjal. Golkar menjadi pilihan paling
rasional. Titah istana mengantar Bahlil Lahadalia ke puncak tertinggi partai
Pohon Beringin itu. Bahlil mengakui itu secara lugas dalam pidato kemenangannya.
Tak hanya di pusat, di daerah pun Jokowi ingin
tetap memegang kendali. Di Sumatera Utara ada Bobby, sang menantu yang
bertarung. Di Jawa Tengah sempat direncanakan Kaesang sang putra bungsu maju
sebagai calon gubernur. Tekanan publik sedikit meredakan Jokowi. DPR 'fraksi
Jokowi' juga tak berdaya. Siasat untuk merevisi UU Pilkada pun batal. Seluruh
rangkaian itu menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Jokowi tetap ingin memegang
kendali.
Kuda Troya
Dalam Iliad (730 BC) karya Homeros dikisahkan
penaklukan Troya terjadi karena strategi 'Kuda Troya'. Pasca 10 tahun
pengepungan, Troya jatuh juga berkat ide cemerlang Oddyseus, raja Itacha.
Yunani membuat kuda raksasa dari kayu dan papan. Kuda itu berisi beberapa
prajurit dan ditempatkan di depan gerbang Troya.
Agamemnon pemimpin koalisi pasukan Yunani lantas
menarik seluruh bala tentaranya dari depan Troya dan bertindak seolah-olah akan
berlayar kembali. Itu muslihat. Ia sedang berpura-pura. Suasana depan tembok
Troya perlahan sepi. Dari menara pantau, para prajurit Troya berpikir bahwa
kuda kayu raksasa itu hadiah untuk Troya. Mereka lantas membuka gerbang dan
menarik masuk Kuda Troya yang di dalamnya berisi para prajurit Agamemnon
Agaknya, itu disadari Jokowi. Kuda Troya yang
lebih kecil juga disiapkan. Di beberapa tempat ada penguatan Relawan Gibran.
Relawan Jokowi juga secara tidak langsung akan disposisi ke Relawan Gibran.
Keberadaan relawan memang tidak akan menyamai efek
strategis partai politik. Tetapi tidak bisa juga dianggap enteng. Kelompok
relawan adalah fenomena yang menarik dalam perkembangan demokrasi. Popularitas
Jokowi berkelindan erat dengan barisan relawan yang mendukungnya secara total
tanpa neko-neko.
Garansi Janji
Ketika Jokowi mendukung penuh Prabowo di pilpres,
kita patut menduga bahwa ada gentleman's agreement antara keduanya. Lantas
mengapa Jokowi masih cawe-cawe? Sebabnya ini bukan sekadar Prabowo dan Jokowi;
tetapi juga orang lain di belakang kedua presiden itu. Karena itu, kesepakatan
antara keduanya tidak terjamin mutlak. Secara intuitif, Jokowi menggunakan sisa
waktunya untuk memastikan kesepakatan itu berada dalam garansi yang utuh.
Sebagai presiden, Prabowo tentu ingin membuat
gebrakannya sendiri. Kendati demikian, gebrakan itu tidak berarti menihilkan
Jokowi. Narasi 'keberlanjutan' memang bukan konsep baku tetapi pasti akan
berjalan. Masa lalu atau sejarah, kata Walter Benjamin (1892-1940) merupakan
dinamo penggerak untuk sejarah masa kini dan masa yang akan datang. Dalam
kalkulasi ekonomi dan program, tentu konsep keberlanjutan di era Prabowo
menjadi logis. Prabowo sendiri adalah seorang pembaca sejarah yang baik.
Dalam konteks politik, cawe-cawe Jokowi adalah
upaya memperkuat garansi janji antara dia dan Prabowo. Ini tentu tidak elok
bagi mata publik dan demokrasi. Kecemasan yang dipertontonkan justru
mempermalukan janji antara keduanya. Publik nantinya membaca dalam perjanjian
itu satunya gentle, satunya tidak; makanya menyisakan kecemasan.
Epilog Zaman
Politik seringkali memiliki corak dan pola yang
berbeda sesuai zamannya. Naiknya Jokowi menjadi presiden adalah contoh ragam
corak dan pola itu. Pada 2014, publik melihat 'Jokowi adalah kita' sebagai anak
zaman yang ditunggu. Ada kejenuhan publik pada kekuasaan SBY yang berlatar
militer, berwibawa dan terlalu elitis. Ada kejenuhan pada oligarki yang
bertumbuh sehat pasca Reformasi.
Agaknya demokrasi memang bukan hanya soal
pemisahan dan pembatasan kekuasaan. Demokrasi juga adalah soal batas waktu
kejenuhan publik. Kekuasaan yang lama akan menjadi bumerang bagi yang
memegangnya; akan menjadi membosankan bagi publik.
Politik selalu butuh pembaharuan baik proses
maupun orang-orangnya. Zaman perlu dikelola oleh orang-orang yang tepat. Jokowi
akan menjadi masa lalu, dan biarkan masa kini di tangan Prabowo.
Pada momen akhir kekuasaannya, Jokowi sudah
seharusnya ikhlas. Sebagai negarawan, ia perlu menampakkan aura kerelaan, bukan
kecemasan pada belum sempurnanya rancangan Kuda Troy yang saat ini berdiri di
hadapan gerbang kekuasaan yang baru.
Moralitas, meski mungkin gagal ditunjukkan selama
masa kekuasaan, setidaknya dipertontonkan di akhir. Seperti dalam peragaan
busana, di momen paling akhir sang perancang akan muncul; melambaikan tangan
dan biasanya akan diiringi tepuk tangan. Orang tidak lagi fokus pada karyanya
tetapi pada sang pembuat karya. Politik membutuhkan tontonan yang bermakna dan
indah (walau hanya) pada akhir.
Setidaknya, itu akan menjadi warisan bagi proses
demokrasi ke depan. Epilog seperti itu akan mendamaikan sekaligus merawat
harapan; pada era kekuasaan yang baru semoga negara dan bangsa ini semakin
jaya. Toh, dalam segala alasan dan isyarat untuk meragu, kita perlu menyisipkan
harapan bahwa bangsa ini akan berjalan dengan derap-derap kejayaan. Politik
dalam segala carut marutnya, mesti tetap menjadi basis harapan bangsa besar ini.
Edward Wirawan analis politik/peneliti Lembaga
Terranusa Indonesia
Baca artikel detiknews, "Kuda Troya Rentan
Jokowi" selengkapnya https://news.detik.com/kolom/d-7576216/kuda-troya-rentan-jokowi.
Download Apps Detikcom Sekarang
https://apps.detik.com/detik/