Minggu, 07 Juni 2026

FILM PETA BABI - KRITIK TERHADAP PEMBANGUNAN PAPUA

 MENONTON FILM PESTA BABI DAN KISAH “PEMBANGUNAN TANPA ANTHROPOLOGY” DI PAPUA

Oleh Denny JA

Sumber: FB: Denny JA
https://www.facebook.com/DennyJAWorld


Malam itu hujan turun pelan di sebuah kampung di Papua Selatan.
Di bawah cahaya api unggun yang kecil, seorang ibu tua memegang segenggam sagu sambil menangis. Ia tidak menangis karena lapar. Ia menangis karena mendengar kabar bahwa hutan di belakang kampungnya akan dibuka untuk proyek pangan dan bioenergi.
“Hutan itu rumah kami,” katanya lirih.
Di kota besar, kalimat seperti itu mungkin terdengar puitis. Tetapi di Papua, itu adalah fakta biologis sekaligus spiritual. Dari hutan itu mereka makan. Dari sungai itu mereka minum. Dari rawa itu mereka mengenal nama burung, arah angin, dan jejak leluhur.
Lalu datanglah negara dengan peta, target produksi, dan ekskavator.
Jalan-jalan lurus mulai membelah rawa. Pohon tumbang satu demi satu. Tentara berdiri menjaga proyek. Dan perlahan, masyarakat adat mulai merasa asing di tanah sendiri.
Saya terdiam lama setelah menonton film Pesta Babi. Saya sadar, tragedi terbesar modernitas bukan selalu perang atau kemiskinan.
Kadang tragedi itu bernama trilema pembangunan, kesulitan mencapai tiga tujuan sekaligus di Papua: bertambahnya lumbung pangan, terjaganya ekologi, dan partisipasi aktif masyarakat lokal.
-000-
Film Pesta Babi adalah dokumenter investigatif karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale yang diproduksi tahun 2026.
Film ini sangat kuat secara sinematografis.
Kamera memperlihatkan hutan Papua yang sunyi, rawa yang mistis, pesta adat yang intim, lalu tiba-tiba dipotong suara ekskavator, alat berat, jalan lurus, dan barisan tentara.
Benturan visual itu menciptakan rasa kehilangan yang menghantam emosi penonton. Film ini tidak hanya menyajikan data. Ia menghadirkan atmosfer.
Penonton dibuat merasakan kecemasan sebuah peradaban yang takut menghilang.
Kekuatan terbesarnya adalah kemampuannya memanusiakan isu Papua. Papua tidak hadir sebagai statistik pembangunan, melainkan sebagai wajah ibu-ibu yang kehilangan sungai, petani muda yang gagal bertani karena tak punya modal, dan masyarakat adat yang menancapkan salib merah di hutan sebagai tanda perlawanan.
Namun film ini juga memiliki kelemahan penting.
Perspektif pemerintah, militer, dan pengusaha hampir tak diberi ruang yang memadai. Padahal negara tentu memiliki argumen: kebutuhan ketahanan pangan, energi nasional, bioetanol, biodiesel, hingga ancaman impor pangan.
Akibatnya, film ini sangat kuat secara moral dan emosional, tetapi kurang menghadirkan dialog utuh tentang trilema pembangunan Indonesia modern.
Andai film ini juga memberi ruang pada suara pemerintah dan pengusaha, ia akan menjadi dokumenter yang lebih jujur. Keberpihakan pada masyarakat adat justru terasa lebih meyakinkan ketika lahir dari trilema yang utuh.
-000-
Saya mulai menceritakan dulu isi film ini. Lalu memberikan rekomendasi bagaimana revisi model pembangunan Papua yang seharusnya, yang lebih peka pada anthropology, ekologi, partisipasi budaya dan masyarakat adat.
Film ini berkisah tentang proyek pangan dan energi raksasa di Papua Selatan yang membuka sekitar 2,5 juta hektare lahan untuk sawah, tebu bioetanol, sawit biodiesel, dan peternakan.
Negara menyebutnya proyek strategis nasional.
Tetapi bagi masyarakat adat Papua, proyek ini terasa seperti awal dari hilangnya dunia mereka. Film mengikuti kehidupan masyarakat Awyu, Marin, Yeinan, dan Muyu.
Mereka bukan aktivis terkenal. Mereka hanya manusia biasa yang mempertahankan tanah leluhur, rawa, sungai, dan hutan yang selama ratusan tahun menjadi sumber kehidupan mereka.
Orang-orang Awyu memasang begitu banyak salib merah di hutan adat. Salib itu bukan simbol agama semata, tetapi tanda larangan terhadap perusahaan dan negara agar tidak memasuki wilayah adat mereka.
Di sinilah film menjadi sangat kuat.
Ia memperlihatkan bahwa bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar aset ekonomi. Hutan adalah supermarket, rumah spiritual, bank makanan, sekaligus makam leluhur.
Ketika pohon ditebang, yang hilang bukan hanya kayu. Yang hilang adalah identitas.
-000-
Film ini juga menunjukkan ironi pembangunan modern. Negara datang membawa sawah, bioetanol, biodiesel, dan investasi. Tetapi masyarakat lokal justru merasa semakin tersingkir.
Natalis Buer, seorang petani muda Papua, berkata bahwa orang Papua sebenarnya mau bertani. Tetapi mereka tidak diberi modal yang cukup, pupuk, teknologi, atau akses pasar. Akibatnya, sawah yang dibuka negara perlahan dikuasai pendatang.
Orang Papua menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Perempuan-perempuan Papua menjadi suara paling emosional dalam film ini. Mereka melihat rawa mengering, kasuari kehilangan habitat, dan sungai rusak.
Mereka bertanya dengan kalimat sederhana yang terasa lebih tajam dari pidato politik manapun:
“Kalau tanah ini habis, kami hidup di mana?”
Film ini juga mengangkat isu militerisasi Papua. Ribuan tentara hadir untuk menjaga proyek strategis nasional. Negara menyebutnya demi keamanan. Tetapi masyarakat adat membawa ingatan panjang tentang operasi militer dan trauma masa lalu.
Salah satu kekuatan intelektual film ini adalah kemampuannya menghubungkan Papua dengan sejarah kolonialisme global.
Dulu kolonialisme datang melalui tebu, rempah, dan perkebunan.
Kini ia datang dengan nama baru: bioetanol, biodiesel, dan ketahanan energi.
Film ini memaksa kita bertanya:
Apakah pembangunan selalu harus berarti penghancuran? Dan apakah negara berhak menyebut tanah adat sebagai “lahan kosong”?
-000-
Saya teringat pengalaman pribadi beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke wilayah timur Indonesia.
Seorang tokoh adat berkata kepada saya: “Kami tidak takut modernitas. Kami takut dilupakan sebagai manusia.”
Kalimat itu terus tinggal dalam kepala saya.
Sebagai orang yang lama berkecimpung dalam dunia kebijakan, riset, dan pembangunan, saya memahami logika negara. Indonesia memang membutuhkan ketahanan pangan dan energi. Dunia juga sedang bergerak menuju bioenergi.
Tetapi saya juga melihat bahaya ketika pembangunan hanya dipimpin oleh engineer, ekonom, dan birokrat, tanpa mendengar antropolog, budayawan, atau masyarakat adat.
Pembangunan akhirnya menjadi sangat efisien, tetapi dingin.
Ia berhasil membangun jalan, tetapi gagal membangun rasa memiliki.
Ia sukses menaikkan angka produksi, tetapi gagal menjaga martabat manusia.
Inilah yang saya sebut sebagai engineering without anthropology.
Pembangunan yang menganggap manusia sekadar variabel statistik.
Padahal manusia bukan angka. Manusia adalah memori, identitas, luka, dan harapan.
-000-
Papua membutuhkan revisi pembangunan: dari engineering without anthropology menjadi engineering with anthropology.
Tiga hal ini masih bisa dilakukan, merevisi model pembangunan saat ini agar ramah kepada masyarakat lokal.
Pertama, membangun Community Sovereign Fund untuk masyarakat adat Papua.
Bukan CSR musiman. Tetapi dana abadi masyarakat adat yang bersumber dari keuntungan proyek pangan, bioenergi, karbon, atau sawit.
Sebagian laba perusahaan harus masuk ke dana bersama yang dikelola transparan oleh tokoh adat, gereja, perempuan Papua, akademisi, dan generasi muda.
Dana ini dipakai untuk pendidikan, rumah sakit, internet desa, modal usaha lokal, hingga perlindungan budaya dan hutan adat.
Jika tanah Papua menghasilkan kekayaan, masyarakat Papua harus menjadi pemilik masa depan ekonomi itu.
Bukan sekadar penerima kompensasi.
-000-
Kedua, masyarakat adat harus menjadi mitra utama pembangunan.
Selama ini masyarakat sering hanya diberi sosialisasi setelah keputusan selesai dibuat.
Padahal mereka memiliki pengetahuan ekologis yang sangat dalam tentang hutan, rawa, sungai, dan tanah Papua.
Setiap proyek strategis nasional harus melibatkan sistem co-governance.
Masyarakat adat ikut menentukan wilayah yang boleh dibuka, kawasan sakral yang dilindungi, pola rekrutmen tenaga kerja, hingga distribusi keuntungan.
Perusahaan tidak cukup memiliki engineer dan konsultan finansial. Mereka juga harus memiliki antropolog sosial.
Karena konflik terbesar pembangunan sering bukan soal teknologi, tetapi soal martabat manusia.
-000-
Ketiga, pembangunan Papua harus melahirkan kelas menengah Papua.
Tidak boleh lagi masyarakat asli hanya menjadi buruh kasar di tanahnya sendiri. Papua membutuhkan investasi besar dalam pendidikan.
Sekolah vokasi, politeknik modern, beasiswa luar negeri, inkubator bisnis lokal, hingga kuota kepemilikan kontraktor Papua.
Dua puluh tahun dari sekarang, anak-anak Papua harus menjadi insinyur, manajer, agronom, dan pemimpin industri di tanahnya sendiri.
Karena rasa memiliki tidak lahir dari slogan nasionalisme. Ia lahir ketika seseorang merasa punya masa depan yang terhormat dalam pembangunan.
-000-
Salah satu contoh paling berhasil tentang pembangunan yang menghormati masyarakat adat terjadi di New Zealand melalui kebangkitan ekonomi suku Māori.
Dulu, masyarakat Māori mengalami luka kolonial yang panjang. Tanah mereka dirampas, bahasa mereka ditekan, dan banyak komunitas adat jatuh miskin di negeri sendiri.
Tetapi negara itu perlahan belajar: pembangunan tanpa martabat hanya akan melahirkan kemarahan turun-temurun.
Maka dimulailah perubahan besar.
Pemerintah New Zealand mengakui hak sejarah masyarakat Māori melalui proses Treaty Settlements. Tanah adat dikembalikan sebagian.
Komunitas Māori diberi saham ekonomi, hak pengelolaan sumber daya alam, dana pendidikan, dan ruang menentukan masa depan mereka sendiri.
Hasilnya luar biasa.
Hari ini banyak suku Māori memiliki perusahaan perikanan, pariwisata, kehutanan, hingga investasi modern bernilai miliaran dolar. Tetapi yang paling penting bukan angka kekayaannya.
Yang paling penting: mereka tidak kehilangan jiwanya.
Bahasa Māori kembali diajarkan. Ritual adat tetap hidup. Anak-anak Māori bisa masuk universitas modern tanpa harus malu menjadi pribumi.
Modernitas tidak lagi datang sebagai alat penghapus identitas, tetapi sebagai kendaraan untuk memperkuat identitas.
Itulah pembangunan yang berwajah antropologi.
Pembangunan yang tidak memaksa masyarakat adat memilih antara menjadi modern atau tetap menjadi dirinya sendiri.
Karena manusia tidak hanya ingin hidup makmur. Manusia juga ingin hidup terhormat.
-000-
Ada dua buku yang sangat penting untuk memahami isu ini.
Pertama, Seeing Like a State karya James C. Scott, diterbitkan Yale University Press tahun 1998.
Scott menjelaskan bagaimana negara modern sering gagal karena terlalu percaya pada logika teknokratis. Negara melihat masyarakat sebagai objek yang harus disederhanakan agar mudah diatur.
Hutan menjadi angka hektare. Manusia menjadi data statistik. Tradisi dianggap penghambat efisiensi.
Scott menunjukkan bahwa proyek-proyek besar sering runtuh karena mengabaikan pengetahuan lokal.
Apa yang terjadi di Papua terasa sangat relevan dengan tesis Scott.
Negara datang dengan target produksi dan peta lurus dari Jakarta. Tetapi masyarakat adat memiliki relasi kompleks dengan tanah, sungai, dan hutan yang tak bisa dipahami hanya dengan angka.
Buku ini mengingatkan kita bahwa pembangunan yang mengabaikan manusia mungkin terlihat modern di atas meja birokrasi, tetapi sering melahirkan kehancuran di lapangan.
-000-
Buku kedua adalah The Death and Life of Great American Cities karya Jane Jacobs, diterbitkan Random House tahun 1961.
Jacobs mengkritik perencana kota modern yang terlalu obsesif pada keteraturan dan efisiensi.
Menurutnya, kota yang sehat bukan dibangun dari desain yang sempurna di atas kertas, tetapi dari kehidupan nyata manusia sehari-hari.
Ia percaya bahwa pembangunan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan dipaksakan dari atas.
Semangat Jacobs sangat relevan untuk Papua.
Pembangunan tidak boleh hanya mengejar target hektare, produksi gula, atau liter bioetanol.
Pembangunan harus bertanya: Bagaimana masyarakat hidup?
Apa yang mereka anggap suci?
Apa yang mereka takut kehilangan?
Jacobs mengingatkan bahwa modernitas yang tidak memahami manusia akan menghasilkan ruang yang rapi, tetapi kosong secara jiwa.
Dan mungkin, itulah ancaman terbesar pembangunan modern hari ini.
-000-
Isu Papua terlalu sering dibahas hanya dengan emosi atau propaganda politik. Padahal masalah ini jauh lebih rumit.
Negara memiliki kebutuhan nyata terhadap pangan dan energi. Tetapi masyarakat adat juga memiliki hak hidup, hak budaya, dan hak atas martabat mereka.
Karena itu, solusi terbaik bukan menghentikan pembangunan.
Solusi terbaik adalah mengubah cara kita membangun.
Dari pembangunan yang dingin menjadi pembangunan yang mendengar.
Dari pembangunan yang melihat manusia sebagai hambatan menjadi pembangunan yang melihat manusia sebagai tujuan.
Saya percaya, masa depan Papua tidak boleh dipilih antara hutan atau modernitas. Papua berhak mendapatkan keduanya.
Karena pembangunan sejati bukan tentang seberapa cepat kita membangun jalan.
Tetapi tentang apakah manusia masih merasa memiliki rumah ketika jalan itu selesai dibangun.***
Jakarta, 19 Mei 2026
REFERENSI
1. Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed
James C. Scott
Yale University Press, 1998
2. The Death and Life of Great American Cities
Jane Jacobs
Random House, 1961
Tampilkan lebih sedikit

JPS, 8 Juni 2026.


POLITIK KEKUASAN DAN POLITIK KAMNUSIAAN

 

PERANG KATA PRESIDEN TRUMP DAN PAUS LEO XIV
Oleh Denny JA
Sumber: FB : Denny JA (15 April 2026)
https://www.facebook.com/DennyJAWorld


Malam itu, di sebuah ruang doa kecil di Roma, lilin-lilin menyala pelan. Seorang imam tua berbisik, “Dunia sedang kehilangan arah.”
Tak jauh dari sana, di layar ponsel para jurnalis, muncul kata-kata keras dari seorang presiden. Di sisi lain, suara seorang paus menjawab dengan nada yang berbeda: bukan kemarahan, melainkan peringatan.
Seperti dua arus besar yang berlawanan, satu berbicara tentang kekuatan, satu lagi tentang nurani. Di antara keduanya, dunia berdiri dalam sunyi yang menegangkan.
Saya teringat perjalanan saya bertahun-tahun lalu, menyusuri Vatikan, melihat bagaimana satu suara kecil dari seorang paus bisa mengguncang kekuasaan besar.
Kini, saya menyaksikan ulang momen itu. Bukan lagi sejarah lama, melainkan sejarah yang sedang ditulis di depan mata kita.
-000-
Perang kata antara Presiden Trump dan Paus Leo XIV bukan sekadar pertukaran pernyataan. Ia adalah benturan dua dunia.
Paus Leo XIV menolak ancaman untuk “melenyapkan peradaban Iran” dengan menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.
Ia bahkan menyebut logika perang sebagai “ilusi kekuasaan absolut.” Dalam bahasa religius yang jarang terdengar dalam konflik geopolitik modern, ia menegaskan bahwa Tuhan tidak mendengar doa dari tangan yang berlumur darah.
Pesan ini bukan sekadar kritik. Ia adalah penolakan moral terhadap cara dunia dijalankan.
Di sisi lain, Trump merespons dengan keras. Ia menyebut Paus lemah, terlalu liberal, dan tidak memahami keamanan dunia. Ia bahkan menyiratkan bahwa Paus berpihak pada lawan.
Dalam satu langkah yang mengejutkan, Trump menggunakan simbol religius untuk memperkuat posisinya. Ia mem-posting citra dirinya dengan nuansa keagamaan, bahkan menyerupai figur Yesus. Ini bukan sekadar politik. Ini adalah upaya merebut legitimasi moral.
Dalam pesawat menuju Aljazair, Paus Leo XIV berkata, ‘Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump… Itu adalah tugas saya, juga tugas Gereja,’ menegaskan bahwa seruan damainya berakar pada Injil, bukan kalkulasi politik.”
Trump membalas lewat Truth Social dan di hadapan wartawan, menyebut Leo ‘lemah’, ‘mengerikan’, bahkan berkata, ‘Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan,’ sambil menuduh Paus menuruti ‘keinginan kaum kiri radikal’.”
Bagi Trump, keamanan nasional adalah moralitas tertinggi. Ia memandang perlindungan warga negara dari ancaman global jika Iran memiliki nuklir. Ini sebagai mandat suci yang tidak boleh dikompromikan oleh retorika pasifis yang dianggapnya abai terhadap realitas geopolitik.
Mengapa ini terjadi. Karena dunia sedang berubah. Kita hidup di era di mana kekuasaan politik tidak lagi tunduk pada otoritas moral.
Negara berbicara dalam bahasa kepentingan. Agama berbicara dalam bahasa kemanusiaan.
Konflik ini adalah cerminan dari ketegangan itu. Di satu sisi, dunia membutuhkan keamanan. Di sisi lain, dunia membutuhkan makna. Ketika keduanya tidak lagi sejalan, konflik menjadi tak terhindarkan.
Di balik kata-kata itu, ada realitas yang lebih sunyi. Perang Iran 2026 telah menelan korban, menciptakan ketakutan akan eskalasi yang lebih luas, bahkan kemungkinan konflik global. Dalam konteks itulah suara Paus menjadi peringatan, dan suara presiden menjadi keputusan.
Saya pernah berdiskusi dengan seorang pemuka agama di Timur Tengah. Ia berkata, “Masalah dunia bukan kekurangan kekuatan. Masalahnya adalah kekuatan tidak lagi tahu batas.”
Kata-kata itu kini terasa sangat relevan. Perang kata ini adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: krisis tentang siapa yang berhak menentukan benar dan salah.
-000-
Di dalam ruang hampa di antara keamanan dan makna itulah politisi paling berkuasa dan pemimpin rohani paling tua kini saling menantang, berebut hak terakhir untuk mendefinisikan apa itu peradaban yang layak diwariskan.
Sepanjang sejarah, konflik antara Paus dan penguasa negara bukan hal baru. Pada abad ke-11, Paus Gregorius VII berhadapan dengan Kaisar Henry IV dalam konflik Investiture Controversy.
Kaisar harus berjalan dalam salju menuju Canossa untuk meminta pengampunan. Itu adalah simbol bahwa kekuasaan dunia tunduk pada otoritas spiritual.
Konflik ini bermula dari pertanyaan sederhana namun sangat mendasar: siapa yang berhak mengangkat pemimpin gereja, raja atau Paus.
Pada masa itu, para raja Eropa biasa menunjuk uskup karena mereka ingin mengendalikan kekayaan dan pengaruh gereja. Paus Gregorius VII menolak praktik ini dan menegaskan bahwa urusan gereja harus bebas dari campur tangan politik.
Henry IV melawan, tetapi akhirnya dikucilkan dari gereja. Tanpa dukungan gereja, kekuasaannya goyah. Dalam ketakutan kehilangan tahtanya, ia datang ke Canossa pada musim dingin, berdiri berhari-hari di luar kastil Paus, tanpa mahkota dan tanpa perlindungan, sebagai tanda penyesalan.
Pada abad ke-20, Paus Pius XI mengkritik rezim fasis dan Nazi. Ia menolak ideologi yang menempatkan negara di atas manusia.
Dalam kasus itu, konflik terjadi karena negara mencoba menggantikan Tuhan dengan kekuasaan.
Paus Pius XI menyampaikan kritik ini melalui dokumen resmi gereja yang dikenal sebagai ensiklik, seperti Mit brennender Sorge. Ia secara langsung mengecam ideologi Nazi di Jerman.
Ia menolak ajaran yang memuja ras tertentu sebagai lebih tinggi dari manusia lain, serta menolak konsep negara absolut yang menuntut ketaatan tanpa batas.
Dalam pandangan Paus, manusia memiliki martabat yang berasal dari Tuhan, bukan dari negara. Karena itu, tidak ada pemerintah yang berhak mengorbankan manusia demi ideologi.
Sikap ini membuat hubungan Vatikan dengan rezim totaliter menjadi tegang, bahkan berisiko, karena Paus berdiri melawan kekuasaan yang saat itu sangat kuat dan represif.
Namun kasus Trump dan Paus Leo XIV berbeda. Ini bukan lagi dunia di mana Paus bisa menjatuhkan penguasa. Ini dunia di mana penguasa berani menantang Paus secara terbuka.
Tidak ada lagi rasa takut pada otoritas moral. Yang ada adalah kompetisi legitimasi.
Perbedaannya sangat jelas. Dulu, Paus adalah pusat moral dunia. Kini, ia adalah salah satu suara di tengah kebisingan global.
Tetapi justru di situlah kekuatannya. Ketika semua suara menjadi keras, suara yang tenang sering menjadi yang paling menggema.
-000-
Dua buku ini meluaskan wawasan kita untuk memahami perang kata antara Presiden Trump dan Paus Leo XIV.
Buku The Power of the Powerless, ditulis oleh Václav Havel, tahun 1985.
Havel menjelaskan bagaimana kekuasaan tidak selalu berasal dari posisi formal. Ia menunjukkan bahwa kebenaran memiliki kekuatan tersendiri, bahkan ketika berhadapan dengan rezim yang represif.
Dalam konteks esai ini, Paus Leo XIV berada dalam posisi yang digambarkan Havel. Ia tidak memiliki kekuatan militer atau politik, tetapi memiliki kekuatan moral.
Havel menekankan bahwa ketika individu atau institusi memilih untuk hidup dalam kebenaran, mereka menciptakan tekanan terhadap sistem kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan atau manipulasi.
Buku ini membantu kita memahami bahwa dalam jangka panjang, kekuasaan yang tidak didasarkan pada kebenaran akan menghadapi krisis legitimasi.
-000-
Kedua, buku The Clash of Civilizations karya Samuel P. Huntington, 1996.
Huntington berargumen bahwa konflik masa depan tidak lagi berbasis ideologi atau ekonomi, melainkan peradaban. Ia menjelaskan bagaimana perbedaan nilai, agama, dan identitas menjadi sumber utama konflik global.
Dalam konteks perang kata ini, kita melihat benturan antara dua cara memandang dunia. Trump mewakili dunia yang berorientasi pada kekuatan dan kepentingan nasional.
Paus mewakili dunia yang berorientasi pada nilai universal dan moralitas global.
Huntington menunjukkan bahwa konflik seperti ini sulit diselesaikan karena masing-masing pihak berbicara dalam bahasa yang berbeda.
Relevansi buku ini terletak pada kemampuannya menjelaskan bahwa apa yang terjadi bukan sekadar konflik personal, melainkan bagian dari dinamika peradaban yang lebih luas.
-000-
Pada akhirnya, perang kata ini mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam. Dunia tidak hanya membutuhkan kekuatan untuk bertahan, tetapi juga nilai untuk hidup.
Ketika kekuasaan dan moralitas berjalan terpisah, manusia kehilangan arah. Trump mungkin berbicara untuk melindungi negara. Paus berbicara untuk melindungi kemanusiaan.
Di antara keduanya, kita semua dipaksa memilih.
Apakah kita percaya bahwa kekuatan menentukan kebenaran, atau kita percaya bahwa kebenaran harus membatasi kekuatan.
Di tengah kebisingan ini, kita menyadari bahwa peradaban hanya akan tegak jika kekuasaan politik bersedia memeluk kembali otoritas etik. Penguasa politik perlu memastikan bahwa setiap keputusan besar tetap memiliki detak jantung kemanusiaan.
Peradaban tidak runtuh karena kekurangan kekuasaan, tetapi karena kekuasaan kehilangan batasnya.
Dan ketika kekuasaan tidak lagi mengenal batas, satu-satunya harapan yang tersisa adalah keberanian untuk mengingatkan bahwa manusia lebih penting daripada kemenangan.***
Jakarta, 15 April 2026
REFERENSI
1. The Power of the Powerless – Václav Havel, Routledge, 1985
2. The Clash of Civilizations – Samuel P. Huntington, Simon & Schuster, 1996
Tampilkan lebih sedikit



JPS, 8 Juni 2026.
*********