KUMPULAN ARTIKEL (OPINI)
Senjakala Surya Paloh
Ditulis : Anton DH Nugrahanto
Pada hari rabu (17/5/23) Surya Paloh berdiri di depan awak media. Ia terisak-isak dan meradang marah karena salah satu kadernya diborgol di depan gedung Jaksa Agung. Separuh parau Surya Paloh berkata “Terlalu mahal…terlalu mahal dia diborgol untuk statusnya sebagai menteri, sebagai sekjen Partai…” matanya kosong seakan menatap kehancuran partainya. Partai yang disebut-sebut sebagai “Restorasi Indonesia” malah terjebak menjadi Partai pencoleng Anggaran Negara dan kisah Johnny G. Plate seakan menjadi babak senjakala Surya Paloh, sebuah babak menyedihkan yang kelam setelah ia menjalani kehidupan cemerlang melewati keberuntungan ke keberuntungan lainnya.
Surya Paloh lahir tahun 1951 dari pasangan pejabat Polisi dan ibu rumah tangga biasa. Walaupun ia anak perwira polisi, tapi dia merasa tidak punya naluri sebagai polisi, ia memilih bisnis sebagai jalan hidupnya. Sejak sangat muda Surya Paloh mendidik dirinya untuk berbisnis. Di usia 14 tahun ia membangun bisnis leveransir, memenuhi barang-barang kebutuhan pokok lalu setelah itu membangun biro pariwisata yang membuat ia kenal banyak orang. Keberuntungan pertama Surya Paloh adalah ia punya kakak ipar bernama Yusuf Gading yang kelak menjabat Dirjen Bantuan Sosial di Departemen Sosial (Depsos), dan menjadi tokoh pencetus lotre NALO sebuah bisnis judi yang dilegalkan negara dan amat terkenal pada 1970-an. Dari kakak iparnya inilah Surya Paloh dibiayai bisnisnya di Medan, salah satunya menjadi agen importir mobil Ford dan VW di Kota Medan, juga mengelola sebuah hotel di Aceh.
Kejeniusan utama Surya Paloh bukan soal bisnis, apalagi politik. Tapi Surya Paloh punya naluri ‘membaca jaman’ kemampuan inilah yang membawa Surya Paloh ke titik puncak tapi sekaligus memerosokkannya ke jurang terbawah pada kemudian hari. Setelah ia berhasil membangun bisnis dan karir politik lewat Golkar di Medan ia berpindah ke Jakarta. Pusat kota yang jadi indikator keberhasilan seseorang pada waktu itu. Di Jakarta inilah dia melihat bahwa masa depan Suharto, penguasa Orde Baru saat itu sangat bergantung pada arah media, tahun itu 1986 dimana masyarakat mulai bosan terhadap Suharto. Di satu sisi yang menarik keuntungan dengan berlawanan Suharto karena itulah yang disukai masyarakat, tapi di sisi lain dia menggantungkan keamanan dan bisnisnya pada lingkaran Suharto, praktis Surya Paloh berdiri di dua kaki.
Di bawah kemampuan membaca jaman inilah, Surya Paloh di tahun 1986 mendirikan harian Prioritas, yang merupakan milestone perjalanan bisnisnya terpenting. Disini Surya Paloh membuat berbeda dengan harian lainnya, mulai dari layout-nya yang berwarna, tulisan-tulisannya yang menarik terutama dari kolom opini yang isinya kerap menyentil pemerintah. Inilah yang kemudian membuat Harmoko gerah. Tak lama setelah berdiri di tahun 1987 harian Prioritas pun dibredel, tapi Surya Paloh memenangkan bisnisnya. Dalam waktu singkat dia bisa mencapai 100 ribu eksemplar dan dia tak kekurangan investor untuk membangun harian baru. Karena kemampuan Surya Paloh menempatkan Harmoko sebagai public enemy dan itu disukai masyarakat. Tapi disisi lain, Surya Paloh menjadi pendukung Orde Baru dengan Golkar-nya. Disini terlihat sekali naluri dasar Surya Paloh tak ingin jauh-jauh dari kekuasaan. Setelah harian Prioritas dibredel Harmoko, Surya Paloh mendirikan bisnis bernama “Media Indonesia” yang kelak akan merajai bisnis media di jaman reformasi.
Di tahun 1998 kekuasaan Suharto jatuh, tapi tidak bagi Surya Paloh dia merapat ke penguasa baru. Justru setelah kejatuhan Suharto inilah, titik penting Surya Paloh membangun kerajaan media besar. Imperium media Surya Paloh itu mencakup stasiun TV berbasis berita yang amat fenomenal : Metro TV. Persiapan rencana imperium media ini disiapkan Surya Paloh sejak 1999. Tahun demi tahun kehidupan Surya Paloh penuh kegemilangan, ia merapat kepada siapa saja yang berkuasa sampai pada masa Jokowi.
Di masa Jokowi inilah puncak bisnis Surya Paloh terjadi tapi juga kehancuran politiknya karena salah “Membaca Jaman”. Kemunculan Surya Paloh dalam menyiapkan organ politik tersediri dimulai tahun 2010. Ia mendirikan ormas yang diberi nama Nasional Demokrat, Nasdem. Banyak tokoh masyarakat dikumpulkan dalam wadah ormas ini termasuk Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tapi di tahun 2011 sontak ormas ini berubah menjadi Partai Politik dan banyak membuat tokoh dalam ormas ini kecewa lalu mengundurkan diri seperti Sri Sultan yang karena kemawasan hatinya bahwa Parpol ini akan berjalan tidak benar.
Surya Paloh hidup dalam alam pikiran SBY dia lebih melihat Partai Politik akan tumbuh pesat bila dilakukan dengan money politics liberalisasi politik di jaman SBY sudah membuat Surya Paloh berpikiran konyol bahwa membeli suara elektoral harus dibiayai dengan uang bukan dengan ideologi, karena ia tumbuh di alam Orde Baru dan juga besar di masa SBY maka pikirannya hanya dua dalam membesarkan Partai Politik : “Uang dan Permainan Hukum”.
Jokowi adalah keberuntungan terakhir Surya Paloh dalam dunia bisnis dan politik, di tahun 2014 kecemerlangan Jokowi menyilaukan publik Indonesia dan Surya Paloh berdiri di sisi yang tepat, Nasdem menjadi partai penyokong Jokowi di jam-jam pertama. Dan kemenangan Jokowi di tahun 2014 membuat Surya Paloh langsung menjalankan operasi politiknya yang didasarkan dua hal itu : “Uang dan Permainan Hukum”. Pertama kali intervensi bisnis Surya Paloh ke Indonesia dengan kekuatan politiknya adalah memasukkan usaha rekan bisnisnya dari RRC, Sam Pa pemilik jaringan perdagangan minyak Sonangol untuk mensuplai minyak dari negara Angola ke Pertamina, setelah itu Surya Paloh memainkan kunci penting yaitu menempatkan Jaksa Agung Prasetyo sebagai ‘Panglima Politiknya’, ia juga menempatkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sebagai cash cow aliran dana ke Partai. Dari setoran-setoran inilah dibangun gedung megah “Nasdem Tower” sebuah kantor partai paling mewah bila dibandingkan kantor-kantor partai lain.
Penempatan ‘orang Paloh’ sebagai Jaksa Agung menempati posisi strategis Nasdem dalam tembakan-tembakan politiknya. Nasdem di tahun 2019 banyak membajak kader dari partai-partai lain baik sebagai caleg ataupun kepala daerah dengan todongan “Dikasuskan oleh kejaksaan atau ikut Nasdem” hal ini juga dilakukan Prasetyo dengan memperalat aparat kejaksaan di daeah-daerah. Surya Paloh kerap membanggakan dia tidak meminta mahar politik, hal ini jelas karena kebutuhan biaya logistik kampanye politik dipenuhi dari setoran-setoran menterinya dan Jaksa Agung Prasetyo.
Tapi tak selamanya karir Surya Paloh cemerlang. Tiba-tiba saja posisi Prasetyo sebagai Jaksa Agung tidak digunakan lagi oleh Presiden Jokowi. Juga Menperindag diserahkan ke partai lain diluar Nasdem. Satu-satunya peluang adalah Johnny G. Plate yang memegang kementerian Kominfo. Menkominfo Johnny G. Plate diperintahkan untuk mengumpulkan dana demi kepentingan Pemilu 2024.
Di Kominfo banyak proyek, tapi ada satu proyek yang nilainya signifikan dan diciptakan untuk digarong, proyek itu ada di bagian Kominfo bernama BAKTI, sebuah badan layanan umum untuk kelancaran komunikasi di wilayah-wilayah terpencil. Proyek itu pembangunan menara BTS dengan nilai total 10 trilyun.
Menurut beberapa sumber, rencana menggarong anggaran BAKTI dilakukan beberapa minggu setelah Johnny G. Plate dilantik menjadi Menteri Kominfo. Suatu saat Direktur Utama menghadap Menteri Johnny, setelah berbasa basi sejenak Dirut BAKTI, Anang Latief mengatakan ada satu proyek strategis yang beranggaran besar tapi punya peluang diambil keuntungannya. Otak kriminil Johnny G.Plate pun sigap membaca peluang itu. Langkah pertama Johnny meminta agar tender proyek BAKTI 10 trilyun dilakukan secara tertutup dan meminta Anang Latief mengumpulkan pengusaha-pengusaha yang bisa diajak ‘cengli’ untuk memark up biaya peralatan. Lalu bergeraklah Anang Latief sesuai perintah Johnny G. Plate dia mengumpulkan pengusaha-pengusaha yang kerap terlibat di proyek Kominfo dan punya hubungan khusus dengan Anang.
Namun beberapa bulan kemudian aksi Anang ini terendus BPK. Badan Pemeriksa Keuangan meminta kasus proyek BAKTI di evaluasi. Tapi walaupun kasus ini sudah terendus BPK, Anang tetap melanjutkan aksi rampoknya di anggaran BAKTI. Baru di tahun 2021 beberapa LSM membaca laporan BPK dan melakukan investigasinya sendiri, awalnya LSM ini hanya menemukan penyelewengan sebesar 1 trilyun. Barulah di akhir 2021 kasus ini ditangani kejaksaan agung, jauh sebelum Nasdem mengumumkan pencalonan Anies Baswedan jadi kasus ini tak terkait dengan pencalonan Anies Baswedan justru langkah Surya Paloh mencalonkan Anies Baswedan adalah tameng bila kasus BAKTI terungkap maka ia bisa beralasan ini adalah ‘intervensi politik’ bukan murni kasus hukum. Brutalnya lagi kasus perampokan anggaran BAKTI diungkap Kejaksaan Agung bukan hanya 1 Trilyun tapi senilai 8,3 Trilyun ini artinya 80% anggaran proyek itu digarong.
Setelah melalui rangkaian penyelidikan yang panjang oleh pihak Kejaksaan. Maka satu persatu pemain garong anggaran BAKTI ditangkapi termasuk Dirut BAKTI Anang Latief. Puncaknya adalah penangkapan Menkominfo Johnny G. Plate pada rabu (17/5/23) dan Surya Paloh mengumpulkan awak media melakukan konferensi pers dengan tujuan menggambarkan kasus Johnny G.Plate adalah alat Jokowi untuk mengganyang partainya. Hal yang sama disampaikan kader Nasdem Willy Aditya yang terang-terangan menyatakan Presiden adalah Petugas Partai yang seenaknya main tangkap. Begitupun Anies Baswedan yang menyatakan dengan nada religius : “Tuhan akan berpihak pada kebenaran” Tapi sayang skenario Surya Paloh untuk mempersepsikan kasus BAKTI Kominfo adalah persoalan politik gagal total, karena efeknya adalah kemarahan rakyat yang meluas terhadap kelakuan Johnny G.Plate.
Sekarang tinggal Surya Paloh merenungi nasib menghadapi kehancuran Partainya, juga ancaman akan pemeriksaan aliran dana BAKTI ke dirinya. Sebenarnya kasus Johnny G.Plate belum seberapa dengan kasus mantan Jaksa Agung Prasetyo yang diindikasi melakukan kejahatan politik luar biasa.
Tapi inilah senjakala Surya Paloh, sebuah akhir kelam dari pebisnis politik yang salah membaca jaman.
***
Siapakah SURYA PALOH?
Petral di Tengah Pusaran Politik
(Bisnis)
By Babo EJB
π© Dulu era Soeharto ketika kita masih surplus minyak.
Produksi dan konsumsi lebih besar produksi,
ekspor Minyak jadi primadona.
Lantas gimana mengontrol ekspor tersebut ?
Pak Harto menyetujui dibentuk Agent yang punya hak monopoli perdagangan Minyak.
π© Maka dibentuklah Petral.
Petral ini perusahaan terdaftar di Singapore.
Pemegang sahamnya adalah
40 persen PT Pertamina,
(Persero)
20 persen Bob Hasan,
20 persen Tommy Soeharto dan
20 persen sisanya yayasan karyawan Pertamina.
Namun dibalik Petral ada operator yang bertindak sebagai trader,
yaitu group Bimantara,
dimana pemiliknya adalah Bambang Tri.
(putra Soeharto)
π© Namun pengelolaannya dipegang oleh Rosana Barack.
Sebetulnya tujuan Ideal Petral ini adalah menjamin pemasukan devisa negara dan sekaligus penjamin pasokan BBM dalam negeri.
π― Jadi bisnis Petral itu tak lebih bisnis monopoli atas Minyak kita.
Dari monopoli inilah semua pihak mendapatkan komisi secara legal.
π© Setelah reformasi,
tahun 2000,
susunan Pemegang saham Petral berubah.
Semua keluarga cendana dan kroni keluar.
π© 99,9% saham Petral dikuasai oleh Pertamina.
Apakah ini akhir dari bisnis rente ?
Tidak.
Petral benar dikuasai Pertamina.
π Tetapi operator tetaplah swasta sebagai trader.
Memang ada banyak trader yang terdaftar,
namun dalam lelang,
yang menang itu itu saja.
Ya segelintir itu saja.
Siapa ⁉️
π© Dia adalah Murez.
Dia sebetulnya pendatang baru dalam bisnis minyak ketika itu.
Dia tadinya hanya sebagai broker jasa kapal tanker yang punya bisnis dengan Bimantara melalui Rosana Barack,
tangan kanan Bambang Tri.
π© Rosana Barack punya adik ipar namanya Surya Paloh. (SP)
Dengan dukungan kekuatan financial dari Rosano Barack inilah Murez bisa mengontrol setiap tender Petral dan menjadi pemenang.
Itu sebabnya hubungan Murez degan SP sangat dekat.
Maklum Murez sebetulnya menjalankan uang dan akses Rosano Barach,
yang notabene adalah kakak ipar SP.
Dan lagi akses Murez ke pemerintah berkat hubungan dekat SP dengan Purnomo Yusgiantoro,
yang ketika era Soeharto staff Menteri Pertambangan energi,
Ida Bagus Sudjana dan kemudian staff SBY sebagai Mentaben era Gus Dur. Era SBY sebagai presiden,
Purnomo Yusgiantoro jadi Mentaben,
bisnis Murez di Petral semakin lancar.
Maklum teman lama yang jadi Mentaben.
Apalagi hubungan Murez dengan Hatta Rajasa,
orang kepercayaan SBY sangat dekat.
Kehebatan business connection ini adalah menjadikan Petral hanya sebagai alat saja.
Yang mengatur semua adalah Holding Company,
Global Energy Resources,
yang membawahi 5 perusahaan.
Gainsford Capital Limited,
dimana Jhone Plate tangan kanan SP sebagai salah satu direktur bersama dengan Murez.
Group inilah yang mengatur pengadaan minyak dari mulai riset pasar,
tender,
pengaturan pemenang tender,
pengaturan harga termasuk titipan yang menjadi bagian bagi para anggota DPR,
pejabat Pertamina,
SKK Migas,
anggota kabinet,
elite partai.
π© Era Jokowi,
Petral dibubarkan.
Sebetulnya rencana pembubaran ini tidak diduga oleh SP dan Murez.
Ternyata Jokowi serius.
Itu sebabnya SP berusaha memasukan skema baru malalui Sociedade Nacional de Combustiveis de Angola EP
(Sonangol EP)
sebagai supply oil underkater.
Dimana boss Sonangol EP adalah sahabat SP sejak lama.
Tapi kandas.
Malah Jokowi melangkah lebih jauh dengan melaporkan ke KPK kasus Petral ini.
Tetapi entah mengapa proses pengusutan mega skandal ini sangat lambat.
Sampai kini hanya menjangkau Menaging Director Petral.
Mastermind nya tidak tersentuh.
Lantas apa kerugian negara dengan adanya petral.
Dampak yang terasa merugikan adalah 20 tahun terakhir ini tidak ada satupun pembangunan kilang baru di Indonesia.
Sementara kilang yang ada jumlahnya sangat terbatas dan masih menggunakan teknologi lama.
Misal,
Pertamina memiliki 7 kilang,
tapi yang bisa beroperasi hanya 5.
Dari yang beroperasi,
hanya ada satu yang menggunakan teknologi baru,
yakni Balongan,
Empat kilang lainnya masih menggunakan teknologi lama.
Akibatnya kita semakin tergantung impor BBM.
Kalau dihitung secara materi mungkin jumlah triliun kerugian negara.
Bukan itu saja.
Dampak di tangki penyimpanan Pertamina hanya bisa mencukupi 18 hari konsumsi,
padahal 10 tahun yang lalu masih bisa 30 hari.
Inventory days yang pendek ini membuka peluang bagi trader untuk bisa menekan Pertamina untuk membeli dengan harga yang mereka mau,
atau BBM akan langka.
Dampaknya bisa chaos ekonomi.
Ini sejenis mind corruption yang di create secara sengaja oleh pelaku white collar crime.
Karena sebagian besar terlaksana berkat aturan yang dibuat pemerintah dan DPR dan operasinya menggunakan perusahaan cangkang,
yang tidak mudah melacak perpindahan uangnya dan transaksinya.
Petral adalah icon dari mega skandal tentang betapa brengseknya oligarki bisnis mengendalikan sumber daya negara dan menjarahnya secara legal berkat konspirasi politik.
Aktor itu sampai sekarang masih ada dan bagian dari elite politik negeri ini.
S. Paloh dan Nasdem nya
☕π΅☕π΅☕π΅☕π΅☕π΅
Akrobat Surya Paloh !!! Ya saya tertawa geli melihat watak aslinya muncul dengan sangat terang benderang. Surya Paloh sejak awal sdh saya prediksi mulai mendirikan ormas Nasdem kemudian dirubah menjadi Partai NasDem, itu tidak lebih untuk menyalurkan birahi kekuasaan yg ingin dicapai. Setelah mencoba memposisikan sbg negarawan yg selalu menyuarakan demi NKRI , dengan Slogan RESTORASI yg sampai saat ini konsepsi RESTORASI tdk jelas.
Hebat.... selalu menyuarakan mendukung tanpa syarat dan mahar !!!! Publik sangat ingat betul bagaimana SLOGAN NASDEM ADALAH JOKOWI - JOKOWI ADALAH NASDEM, dan slogan ini cukup ampuh mendongkrak perolehan PILEG NASDEM pada pemilu 2019 lalu.
Ya.... itulah politik menurut saya dukungan NASDEM terhadap JOKOWI pd PILPRES 2019 saling menguntungkan baik bagi jokowi maupun NASDEM sendiri. Namun sekali lagi itulah politik.
Tampaknya Surya Paloh tdk mencapai target politik yg diharapkannya dan atau kecewa dg Presiden Jokowi dalam penyusunan Kabinet Indonesia Maju meskipun NASDEM mendapat 3 Menteri.
Sebaiknya Surya Paloh bermain lebih cantik dan elegan, MAAF JANGAN KAMPUNGAN/NORAK !!!! karena justru itu akan menurunkan derajatnya sendiri.
Disaat publik terperanjat oleh kelakuan DKI-1 karena Jajaranya membuat PERENCANAAN ANGGARAN BELANJA DKI 2020 yg ugal2xan alias tdk logic, justru diundang pada pembukaan Kongres NASDEM.
Dengan dalih apapun publik mentertawakan NASDEM yg mencoba meyakinkan Publik sbg Partai modern, demokratis, dan profesional justru didalam KONGRES NASDEM kemarin menelanjangi diri sendiri bukan sbg Partai Rakyat tetapi Partai Elit.
SURYA PALOH adalah NASDEM dan NASDEM adalah SURYA PALOH.
Untuk sekedar diketahui saja :
✓ Surya Paloh, istrinya punya kakak yg bernama Rosano Barak (Cano)
✓ SP dan Cano bisnis di perminyakkan nge-link dg Bambang Tri Atmodjo. Mrk dpt job bermain di LN.
✓ Rosano Barak (Cano) adalah second Man Bambang Tri A, dia sbg operator Kerajaan Bisnis Bimantara.
✓ Bimantara skrng Merger dg MNC Grup yg dipimpin Harry Tanoe S yg jg Ketua Perindo.
✓ Moch Reza Chalid (mafia minyak) sbg brokernya (DPO)
✓ Moch RC, justru muncul dlm Kongres Nasdem kemarin krn dia bergabung dg Nasdem
✓ Sekjen Nasdem (Jhoni Plate) yg skrng masuk jajaran kabinet Indonesia Maju, sudah lama menjadi orangnya Moch Reza C sejak dijaman kuliah.
So....Perindo+Nasdem+Bimantara, bergabung dlm berpolitik dan bisnis di negara ini, huebaaaatt⛔
Hiiiiiiiii......ngeri...ngeri...sedap, πππ€«
Lebih cepat masyarakat membaca tulisan saya ini, lebih baik !!!!
Masih pantaskah Partai NASDEM didukung atau dipilih pada 2024 ??? π€·♂π€·♂π€·♂
Semua kembali ke pemilih suara /voters
*******
Fakta Sejarah Yang Harus Diketahui OIeh Seluruh Rakyat
Indonesia, Bagikan Kepada Keluarga Dan Teman Anda Yang Cinta Akan Indonesia.
Jokowi.TOPsekali.com
https://jokowi.topsekali.com/2021/10/fakta-sejarah-yang-harus-diketahui-oieh.html
Inti pergantian kekuasaan dari Bung Karno ke Suharto adalah
berubahnya prinsip pembangunan ekonomi Indonesia, dari kemandirian menjadi
ketergantungan. Mei 1966, Suharto mengumumkan kita Indonesia menggandeng IMF.
Padahal Bung Karno pernah mengusir mereka dengan kalimatnya yang terkenal: “Go
to hell with your aid!”
Semoga Fakta Sejarah Ini Jadi Pencerahan Bagi Kita!
Berkacalah Dengan Fakta Sejarah, Jangan Terus Menerus
Sembarangan Ngomong !
MENGAPA BUNG KARNO DILENGSERKAN DENGAN CARA FITNAH YANG
SANGAT KEJI , DAN MENGAPA JOKOWI JUGA DIPERLAKUKAN SAMA DENGAN FITNAH-FITNAH
YANG SANGAT KEJI JUGA ?
Ini Jawabannya:
Bung Karno dilengserkan dengan fitnah yang sangat keji untuk
mengkorupsi/merampok kekayaan alam Indonesia, Jokowi diserang dengan
fitnah-fitnah keji juga harus dilengserkan dengan segala cara untuk mengamankan
hasil korupsi/rampokan, sebab Jokowi adalah orang yang bersih dan bukan bagian
dari kejahatan masa lalu dan sekarang.
Ini Penjelasan Fakta Sejarahnya:
Suharto yang telah sukses mengkudeta Bung Karno, mengirim
satu tim ekonomi yang terdiri dari Prof.Dr Soemitro Djojohadikusumo, Prof. Dr
Sadli dan sejumlah profesor ekonomi lulusan Berkeley University AS.
Oleh sebab itu mk tim
ekonomi ini juga disebut sebagai ‘Berkeley Mafia’ ke Swiss. Mereka hendak
menggelar pertemuan dengan sejumlah konglomerat penguasa dunia, yang dipimpin
David Rockefeller.
Di Swiss,tim ekonomi suruhan Suharto ini menggadaikan
seluruh kekayaan alam negeri ini ke hadapan David Rockefeler cs. Dengan seenak
perutnya, mereka mengkavling-kavling Bumi Nusantara dan memberikannya kepada
pengusaha-pengusaha asing tersebut.
Gunung Emas di Papua diserahkan kepada Freeport, Ladang
Minyak dan Gas di Riau kepada Chevron, Ladang Minyak dan Gas di Aceh kepada
Exxon, dan sebagainya masih banyak lagi yang lainnya.
Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967 pun
dibuat dan dirancang di Swiss, untuk menuruti apapun kehendak para pengusaha
asing tersebut.
Sampai detik ini, perampokan atas seluruh kekayaan alam
negeri ini masih saja terus berjalan dan dikerjakan dengan sangat leluasa oleh
berbagai Korporasi Penguasa Dunia. Silahkan telusuri semua dengan fakta-fakta
tak terbantahkan sebagaimana yang telah dilakukan George Aditjondro bahwa
negeri ini tengah meluncur ke jurang kehancuran, dimana Suharto dan Sumitro
Djojohadikusumo adalah dalang dari semua ini.
Sudah banyak sekali buku-buku ilmiah yang ditulis para
cendekia baik dari dalam maupun luar negeri tentang betapa bobroknya kinerja
pemerintahan di saat rezim Suharto berkuasa selama lebih kurang 32 tahun,
dengan jutaan fakta dan dokumen yang tak terbantahkan.
Sebab itu, tulisan ini memaparkan fakta apa adanya tentang
Suharto. Agar setidaknya, mereka yang selama ini menganggap Suharto pahlawan,
harus bisa bermuhasabah dan melakukan renungan yang lebih dalam, sudah benarkah
tindakan tersebut.
Fakta sejarah harus ditegakkan, siapa sebenarnya Suharto
sebelum dan sesudah menjadi presiden? Suharto lahir di Kemusuk, Argomulyo,
Yogyakarta, 8 Juni 1921, dari keluarga petani, karirnya diawali sebagai
karyawan di sebuah bank pedesaan, walau tidak lama.
Dia sempat juga menjadi buruh dan kemudian menempuh karir
militer pertama kali sebagai prajurit KNIL yang berada di bawah kesatuan
tentara penjajah Belanda. Saat Jepang masuk di tahun 1942, Suharto bergabung
dengan PETA. Ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan, Soeharto bergabung
dengan TKR.
Salah satu ‘prestasi’ kemiliteran Suharto yang sering
digembar-gemborkannya semasa dia berkuasa adalah Serangan Umum 1 Maret 1949
atas Yogyakarta. Bahkan ‘prestasi’ ini sengaja difilmkan dengan judul ‘Janur
Kuning’ (1979) yang memperlihatkan jika serangan umum itu diprakarsai dan
dipimpin langsung oleh Suharto.
Padahal, sesungguhnya serangan umum itu diprakarsai sendiri
Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sri Sultan
Hamengkubuwono IX lah yang memimpin serangan umum melawan Belanda. Sri Sultan
Hamengkubuwono IX adalah seorang nasionalis yang memiliki perhatian terhadap
nasib rakyatnya, karena itu ia tidak mau untuk di jajah. (lihat biografi Sri
Sultan Hamengkubuwono IX).
Kemudian pada 1959, Suharto yang kala itu menjabat sebagai
Pangdam Diponegoro dipecat oleh A.H.Nasution dengan tidak hormat karena Suharto
telah menggunakan institusi militernya untuk mengumpulkan uang dari
perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Suharto kala itu juga ketahuan ikut
kegiatan ilegal berupa penyelundupan gula dan kapuk bersama Bob Hasan dan Liem
Sioe Liong.
Untuk memperlancar penyelundupan ini, didirikan perusahaan
perkapalan yang dikendalikan Bob Hasan. Konon, dalam menjalankan bisnis
haramnya ini, Bob Hasan menggunakan kapal-kapal ‘Indonesian Overseas’ milik
C.M. Chow.
Siapa C.M. Chow ini? Dia adalah agen ganda. Pada 1950 dia
menjadi agen rahasia militer Jepang di Shanghai. Tapi dia pun kepanjangan
tangan Mao Tse Tung, dalam merekrut Cina perantauan dari orang Jepang ke dalam
jaringan komunis Asia.
Pada 1943, Chow ditugasi Jepang ke Jakarta. Ketika Jepang
hengkang dari Indonesia, Chow tetap di Jakarta dan membuka usaha perkapalan
pertama di negeri ini. Chow bukan saja membina WNI Cina di Jawa Tengah dan Jawa
Timur, namun juga di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
Salah satu binaannya adalah ayah Eddy Tansil dan Hendra
Rahardja yang bermarga Tan. Tan yang ini merupakan sleeping agent Mao di
Indonesia Timur. Pada pertengahan 1980-an, Hendra Rahardja dan Liem Sioe Liong
mendirikan sejumlah pabrik di Fujian, Cina.
A.H.Nasution kala itu sudah sangat marah sehingga ingin
memecat Suharto dari AD dan menyeretnya ke Mahkamah Militer, namun atas desakan
Gatot Subroto, Suharto dibebaskan dan akhirnya dikirim ke SSKAD (Sekolah Staf
dan Komando Angkatan Darat).
Selain A.H.Nasution, A.Yani juga marah atas ulah Suharto dan
dikemudian hari mencoret nama Suharto dari daftar peserta pelatihan di SSKAD,
yang mana hal ini membuat Suharto dendam sekali terhadap A. Yani. Terlebih Yani
adalah anak kesayangan Bung Karno.
Kolonel Pranoto Rekso Samoedro diangkat sebagai Pangdam
Diponegoro menggantikan Suharto. Pranoto, sang perwira 'santri', menarik
kembali semua fasilitas milik Kodam Diponegoro yang dipinjamkan Suharto kepada
para pengusaha Cina untuk kepentingan pribadinya.
Di SSKAD,Suharto dicalonkan untuk menjadi Ketua Senat, namun
D.I.Panjaitan menolak keras dengan menyatakan dirinya tidak percaya dengan
Suharto yang dinilainya tidak bisa dipercaya karena mempunyai banyak catatan
kotor dalam karir militernya, antara lain penyelundupan bersama para pengusaha
Cina dengan dalih untuk membangun kesatuannya, namun yang terjadi adalah untuk
memperkaya dirinya.
Atas semua kejadian itu Suharto sangat sakit hati dan
dendam.
Bertambah lagi dendam
Suharto, selain kepada A.H.Nasution, Ahmad Yani, kini D.I. Panjaitan. Aneh tapi
nyata, dalam peristiwa G30S 1965, musuh-musuh Suharto, yaitu A.H.Nasution,
Ahmad Yani, dan D.I.Panjaitan, menjadi target pembunuhan, sedangkan Suharto
sendiri yang merupakan orang kedua di AD tidak masuk dalam daftar kematian
peristiwa G30S 1965.
Dan ketika A.Yani terbunuh, Bung Karno mengangkat Pranoto
Rekso Samudro sebagai Kepala Staf AD, namun Pranoto dijegal oleh Suharto
sehingga Suharto yang mengambil-alih kepemimpinan AD, kemudian untuk
menghindari pertumpahan darah dan perang saudara karena Siliwangi di Jawa Barat
(Ibrahim Adjie) dan KKO (Marinir) di Jawa Timur, dimana telah bersumpah selalu
berada di belakang Soekarno dan jika Soekarno memerintahkan untuk ‘menyapu’
bersih semua kekuatan Suharto di Jakarta, maka mereka menyatakan siap untuk
berperang.
Namun untuk menghindari perang saudara serta jatuhnya korban
lebih banyak lagi, Bung Karno tidak memerintahkan, jadilah Suharto sebagai
KSAD.
Pasca Perang Dunia II, AS melihat Uni Soviet sebagai
satu-satunya pihak yang bisa menghalangi hegemoninya atas dunia.
Diluncurkanlah Marshall Plan sebagai upaya membendung
pengaruh komunisme yang kian lama kian meluas, dari Eropa Timur ke arah Asia
Tenggara, sebuah wilayah yang sangat strategis dari sisi perdagangan dunia dan
geopolitik, juga sangat kaya raya dengan sumber daya alam dan juga manusianya.
AS sangat cemas jika wilayah tersebut dikuasai Uni Soviet.
Dari semua negeri di wilayah itu, Indonesia lah negara yang paling strategis
dan paling kaya raya. AS sangat paham akan hal ini, sebab itu di wilayah ini
Indonesia merupakan satu-satunya wilayah yang disebut dalam Marshall Plan.
Namun untuk menundukkan Indonesia, AS jelas kesulitan karena
negeri ini tengah dipimpin oleh seorang yang sukar diatur, cerdas, dan dicintai
rakyatnya, dialah Bung Karno. Tiada jalan lain, orang ini harus ditumbangkan,
dengan berbagai cara.
Sejarah telah mencatat dengan baik bagaimana badan agen
rahasia AS yaitu CIA ikut terlibat langsung berbagai aksi pemberontakan
bersenjata di Indonesia, diantaranya PRRI, PERMESTA dan pemberontakan yang
lainnya. CIA juga membina kader-kadernya di bidang pendidikan (yang nantinya
melahirkan Mafia Berkeley), mendekati dan menunggangi partai(2) politik
...kekuatan politik, demi kepentingannya, membina sel-sel binaannya di
ketentaraan (local army friend) dan sebagainya.
Setelah berkali-kali gagal menjatuhkan Bung Karno dan bahkan
sampai hendak membunuhnya, akhirnya pada paruh akhir 1965, Bung Karno berhasil
disingkirkan CIA lewat Suharto dengan Gerakan 30 September 1965 yang terjadi di
tubuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang mana dalang sebenarnya
adalah Suharto dengan bantuan CIA.
Setelah peristiwa 1 Oktober 1965, secara de facto, Suharto
melalui kudeta merangkaknya mulai mengendalikan negeri ini. Pada pekan ketiga
Oktober 1965, Suharto menugaskan para kaki tangannya membantai mungkin
jumlahnya mencapai jutaan orang.
Mereka yang dibunuh adalah orang-orang yang dituduh sebagai
kader atau simpatisan komunis (PKI), tanpa melewati proses pengadilan yang
fair. Media internasional bungkam terhadap semua kejahatan kemanusiaan yang
luar biasa itu, karena memang AS sangat diuntungkan.
Jatuhnya Bung Karno dan naiknya Suharto dirayakan dengan
penuh suka cita oleh Washington. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai
“Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Satu negeri dengan wilayah yang sangat
strategis, kaya raya dengan sumber daya alam, segenap bahan tambang, dan
sebagainya ini telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat akan dijadikan
*‘sapi perahan’ bagi kepentingan dan kejayaan imperialisme Barat.
https://jokowi.topsekali.com/2021/10/fakta-sejarah-yang-harus-diketahui-oieh.html
Benar saja, November 1967, Suharto menugaskan satu tim
ekonom pro-AS menemui para 'bos' Pengusaha Internasional di Swiss. Dalam bulan
November 1967 menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS
untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka
hasil tangkapannya itu dibagi-bagi.
The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di
Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi pengambilalihan
Indonesia.
Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling
berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller, termasuk Raksasa
Korporasi Barat yang diwakili perusahaan-perusahaan Minyak dan Bank, Freeport,
Chevron, Exxon, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland,
British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The
International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian
Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya.”
Di seberang meja perundingan, duduk orang-orang Soeharto
yang oleh Rockefeller*dan pengusaha-pengusaha international lainnya disebut
sebagai *‘ekonom-ekonom Indonesia yang korup’.
“Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The
Berkeley Mafia’ karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah
Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka
datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para
majikannya yang hadir.
Menyodorkan butir-butir perundingan yang dijual dari negara
dan bangsanya.
Tim Ekonomi Indonesia menawarkan tenaga buruh yang banyak
dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.”
Ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi sektor.” Prof.
Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler.”
“Mereka membaginya dalam lima seksi: Sektor pertambangan di
satu kamar, Jasa-Jasa di kamar lain, Industri ringan di kamar satunya,
Perbankan dan Keuangan di kamar yang lain lagi, yang dilakukan oleh Chase
Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan
yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya.
Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling
dari satu meja ke meja lainnya dg mengatakan,.... ‘Ini yang kami inginkan, itu
yang kami inginkan, ini, itu, dan ini.’
Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk
berinvestasi dlm iklim ekonomi liberal versi mereka, tentunya produk hukum
Ekonomi Liberal yang sangat menguntungkan mereka.
Belum pernah terdengar situasi seperti itu sebelumnya,
dimana pemodal global duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai
negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke
dalam negaranya sendiri.
Freeport mendapatkan Gunung Emas di Papua (Henry Kissinger,
pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Exxon mendapatkan Minyak dan
Gas di Aceh, Chevron mendapatkan Minyak dan Gas di Riau, sebuah konsorsium
Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian
terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan
Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan
Papua.
Demikian juga sebuah undang-undang tentang penanaman modal
asing yang dirancang oleh Sumitro Djojohadikusumo dan disetujui langsung oleh
Soeharto, membuat strategi perampokan negara yang direstui pemerintahan
Suharto.
Oleh Suharto,rakyat dijejali dengan propaganda
pembangunan,Pancasila, dan trickle down effect terhadap peningkatan
kesejahteraannya, tapi fakta yang terjadi di lapangan sesungguhnya adalah
proses pemiskinan bangsa secara sistematis yang dilakukan oleh rezim Suharto.
Pada 12 Maret 1967, Soeharto dilantik sebagai Presiden RI
ke-2. Tiga bulan kemudian, dia membentuk Tim Ahli Ekonomi Kepresidenan yang
terdiri dari Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr. Widjojo Nitisastro,
Prof. Dr. Ali Wardhana, Prof Dr. Moh. Sadli, Prof Dr. Subroto, Dr. Emil Salim,
Drs. Frans Seda, dan Drs. Radius Prawiro. Seluruhnya pro kapitalisme, terus
bgmn dg esensi ekonomi Pancasila kita yg di RRC malah sdh sebagian besar sdh
diadopted utk menggantikan ekonomi komunis murni mereka (yang ternyata gagal membawa RRC makmur sd 45
tahunan yl) dan menjadikan RRC yg digdaya saat ini?
Nopember 1967, Suharto mengirim tim ekonomi ini ke Swiss
menemui para CEO Pengusaha
Internasional. Lahirlah UU PMA 1967 yang sangat menguntungkan imperialis
Barat. Prinsip kemandirian ekonomi Indonesia yang dijaga mati-matian oleh Bung
Karno, oleh Suharto dihabisi dengan menjadikan Indonesia sebagai negara yang
sangat tergantung pada barat sebagai kekuatan kapitalis dunia.
David Ransom dalam artikelnya yang populer berjudul “Mafia
Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia, Kuda Troya Baru dari
Universitas-Universitas AS Masuk ke Indonesia” ( Ramparts,1970), memaparkan
jika AS menggunakan dua strategi untuk menaklukkan Indonesia, tentu saja
dimulai dengan menyingkirkan Bung Karno.
Pertama,
membangun satu kelompok intelektual yang berpikiran model
Barat.
Dan Kedua,
membangun satu sel dalam tubuh ketentaraan yang selalu siap
bekerjasama dengan AS.
Yang pertama didalangi oleh berbagai yayasan beasiswa
seperti Ford Foundation dan Rockeffeler Foundation, juga berbagai universitas
ternama AS seperti Berkeley, Harvard, Cornell, dan juga MIT.
David Ransom menulis, dua tokoh Partai Sosialis Indonesia,
sebuah partai kecil yang berhaluan sosialis-kanan, yakni Sumitro
Djojohadikusumo dan Soedjatmoko menjadi ujung tombak pembentukan jaringan
intelektuil pro-Barat di Indonesia, mereka dibina oleh AS sejak akhir tahun
1949-an.
Sedang tugas kedua dilimpahkan kepada CIA. Salah satu
agennya bernama Guy Pauker yang bergabung dengan RAND Corporation mendekati
sejumlah perwira tinggi lewat salah seorang yang dikatakan berhasil direkrut
CIA, yakni Deputi Dan Seskoad Kol. Soewarto. Dan Intel Achmad Soekendro juga
dikenal dekat dengan CIA.
Lewat orang inilah, komplotan AS, mendekati militer. Suharto
adalah murid dari Soewarto di Seskoad. Di Seskoad inilah para intelektuil
binaan AS diberi kesempatan mengajar para perwira. Terbentuklah jalinan
kerjasama antara sipil-militer yang pro-AS.
Paska tragedi 1965 dan pembantaian rakyat Indonesia, yang dituduh komunis,
dan kelompok ini mulai membangun
‘Indonesia Baru’. Para doktor ekonomi yang mendapat binaan dari Ford kembali ke
Indonesia dan segera bergabung dengan kelompok ini, di antaranya Emil Salim.
Suharto kemudian membentuk Trium-Virat (pemerintahan bersama
tiga kaki) dengan Adam Malik dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ransom menulis,
“Pada 12 April 1967, Sultan mengumumkan satu pernyataan politik yang amat
penting yakni garis besar program ekonomi rezim baru itu yang intinya
menegaskan mereka akan membawa Indonesia kembali ke pangkuan Imperialis. Kebijakan
tersebut ditulis oleh
Widjojo dan Sadli.”
Ransom melanjutkan, “Dalam merinci lebih lanjut program
ekonomi yang baru saja digariskan Sultan, para teknokrat dibimbing oleh AS.
Kemudian saat Widjojo kebingungan dalam menyusun program stabilisasi ekonomi, AID mendatangkan
David Cole, ekonom Harvard yang baru saja membuat regulasi perbankan di Korea
Selatan untuk membantu Widjojo.
Sadli juga sama, meski sudah doktor, tapi masih memerlukan
“bimbingan”. Menurut seorang pegawai Kedubes AS, “Sadli benar-benar tidak tahu
bagaimana seharusnya membuat suatu regulasi Penanaman Modal Asing. Dia harus
mendapatkan banyak dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Ini merupakan tahap awal dari program Rancangan Pembangunan
Lima Tahunan (Repelita) Suharto, yang disusun oleh para ekonom Indonesia
didikan AS, yang masih secara langsung dibimbing oleh para ekonom AS sendiri
dengan kerjasama dari berbagai yayasan yang ada.
Juni 1968, Suharto secara diam-diam dan mendadak mengadakan
reuni dengan orang-orang binaan Ford, yang dikenal sebagai “Mafia Berkeley”
(untuk merancangkan susunan Kabinet Pembangunan dan badan-badan penting tingkat
tinggi lainnya).
Sebagai Menteri Perdagangan ditunjuk Dekan FEUI Prof.Dr.
Sumitro Djojohadikusumo (Doctor of Philosophy dari Rotterdam), Ketua BPPN
ditunjuk Widjojo Nitisastro (Doctor of Philosophy Berkeley, 1961), Wakil Ketua BPN ditunjuk Emil Salim (Doctor of
Philosophy, Berkeley, 1964 ), Dirjen Pemasaran dan Perdagangan ditunjuk Subroto
(Doctor of Philosophy dari Harvard, 1964), Menteri Keuangan ditunjuk Ali
Wardhana (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1962), Ketua Team PMA Moh. Sadli
(Master of Science, MIT, 1956), Sekjen Departemen Perindustrian ditunjuk Barli Halim (MBA
Berkeley, 1959), sedang Sudjatmoko, penasehat Adam Malik, diangkat jadi Duta
Besar di Washington, posisi kunci poros Jakarta-Washington.
Tim ekonomi “Indonesia Baru” ini bekerja dengan arahan
langsung dari Tim Studi Pembangunan Harvard (Development Advisory Service, DAS)
yang dibiayai Ford Foundation. “Kami bekerja di belakang layar,” ujar Wakil
Direktur DAS Lister Gordon.
AS segera membackup penguasa baru ini dengan segenap daya
sehingga stabilitas ekonomi Indonesia yang sengaja dirusak oleh AS pada masa
sebelum 1965 bisa sedikit demi sedikit dipulihkan. Mereka inilah yang berada
dibelakang Repelita yang mulai dijalankan pada awal 1969, dengan mengutamakan
penanaman modal asing dan swasembada hasil pertanian.
Dalam banyak kasus, pejabat birokrasi pusat mengandalkan
pejabat militer di daerah-daerah untuk mengawasi kelancaran program Ford ini.
Mereka bekerjasama dengan para tokoh daerah yang terdiri dari para tuan tanah
dan pejabat administratif. Terbentuklah kelompok baru di daerah-daerah yang
bekerja untuk memperkaya diri dan keluarganya. Mereka, kelompok pusat dan
kelompok daerah, bersimbiosis-mutualisme. Mereka juga menindas para petani yang
bekerja di lapangan.
Benih Orde Baru tumbuh di atas genangan darah dan tetesan
air mata rakyatnya. Arah pembangunan (Repelita) didesain sesuai dengan
keinginan Washington dengan mengutamakan eksploitasi segenap kekayaan alam bumi
Indonesia yang dikeruk habis-habisan dan diangkut ke luar guna memperkaya
negeri-negeri Barat.
JOKOWI.TOPsekali.com
https://jokowi.topsekali.com/2021/10/fakta-sejarah-yang-harus-diketahui-oieh.html
Dari grup WA, yang peduli pada bangsa akan tertarik membaca,
GEOPOLITIK
(Tulisan Panjang)
.
Tak ada seorang pun mau disaingi, apalagi si pesaing mampu
mengejar gara-gara mengambil sesuatu yang berharga yang kemarin adalah milik
mereka yang akan disusul.
Suka tak suka, AS pasti tak senang bila negara kita makin
maju karena tambahan unsur bahwa kita telah mengambil sebagian dari miliknya.
Mungkinkah karena pandemi ini kita berjalan dengan cara
lebih benar sehingga tiba-tiba prediksi yang tadinya adalah di tahun 2030 kita
baru akan masuk 5 besar, justru pada 2024 kita sudah akan mencapainya?
Berdasarkan data World Bank dan IMF (data Produk Domestik
Bruto-Paritas Daya Beli), pada tahun 2024 Indonesia diprediksi menjadi negara
dengan perekonomian terbesar ke-5 di dunia.
Kedua lembaga tersebut menyebut, secara umum, pada tahun
2024 akan terjadi pergeseran susunan perekonomian terbesar di dunia. Asia akan
semakin mendominasi posisi lima teratas, menggeser posisi beberapa negara
Eropa.
Setelah China dan Jepang yang saat ini sudah berada di
posisi lima besar, Indonesia dan India diprediksi akan menggantikan posisi
Inggris dan Jerman.
World Bank dan IMF telah mengeluarkan hasil prediksinya, dan
kita, Indonesia akan mengeser banyak negara maju seperti Jerman, Perancis,
Italia hingga Inggris dalam hal PDB, dan itu akan terjadi pada tahun 2024 nanti
bila konsistensi pencapaian kerja kita dapat terus bertahan seperti saat ini.
Sebelumnya, di bawah Jokowi, setelah dia memegang komando
selama 4 tahun, pada 2018 banyak negara tetangga terkaget heran bercampur iri
sekaligus khawatir.
Indonesia meroket dan masuk menjadi negara dengan PDB diatas
1 triliun dolar, masuk menjadi bagian elit sedikit negara yang berpenghasilan
lebih dari 1 triliun dolar.
AS yang sejak perang dunia ke 2 berakhir, selalu menjadi
yang terdepan dalam hampir semua hal, kali ini harus mulai bersiap, dia akan
digeser oleh China dalam kekayaan.
AS masih akan berada pada urutan nomor 2 pada 2024, namun
pada 2050 dia akan semakin jauh. AS diprediksi hanya pada urutan ke 3 di bawah
China dan India. Pada tahun itu, Indonesia dipredikai akan sudah berada pada
urutan ke 4 setelah AS.
"Relakah AS?"
Menjadi kaya adalah tentang dominasi dalam banyak hal. Dia
akan lebijh mampu membeli apapun yang tak mungkin dapat dilakukan orang lain.
Dia juga akan mampu membuat banyak hal yang bahkan sebelum orang lain sempat
berpikir.
Intinya, dengan mudah dia akan semakin meninggalkan para
pesaingnya dalam banyak hal.
Relakah AS akan tersaingi dalam teknologi militer dari China
contohnya, tentu tidak. China masih akan butuh waktu lama menyaingi teknologi
milik AS. Namun bukan berarti tak akan terkejar.
China akan memiliki sisa uang lebih banyak untuk mengejar
ketertinggalannya tersebut. Bukan mustahil China bahkan akan lebih unggul bila
itu tetap dibiarkan terjadi.
Maka, usaha menghambat, dan bila perlu menghancurkannya
sebelum semua terlambat, bukan sesuatu yang mustahil dong?
Demikian pula dengan Indonesia, negara antah berantah bagi
banyak orang sebelum tahun 2000an. Banyak orang diluar sana lebih kenal Bali
dan Soekarno dibanding apa dan siapa Indonesia.
"Maksudnya, Indonesia pun akan dibidik dan dihalangi
untuk menjadi maju?"
Banyak kepentingan AS terpaksa harus terusir dari Indonesia
karena Jokowi, bukan dongeng. Itu juga jelas bukan kenyataan yang mudah
diterima begitu saja meski ekspresi senyum AS masih terlihat ramah dengan
kalimat santunnya tetap masih terucap.
Siapa tak marah bila pundi-pundi kekayaannya diambil paksa,
apalagi gara-gara hal tersebut juga menjadi salah satu sebab dia terkejar dan
kemudian tertinggal oleh pesaing terdekatnya.
AS pasti marah dan tak suka dengan cara kita merampas
privilege yang telah dinikmatinya selama puluhan tahun di Indonesia.
Gunung emas di Papua dan kolam minyak di Aceh dua terbesar
dari banyak miliknya diambil paksa oleh Jokowi.
Freeport dan Exxon sang raksasa sebagai mesin kapitalis
penghasil pundi-pundi kemewahan itu dibongkar dan dipreteli oleh seorang
Presiden culun yang tak pernah dianggapnya.
Dulu, untuk mendapatkan itu semua, AS harus mendongkel
Soekarno dan meletakkan boneka bernama Soeharto dengan korban jutaan orang
akibat pemberontakan G 30 PKI dan susulannya.
Dengan melibatkan dinas rahasianya, AS dan Soeharto meluluh
lantakkan Indonesia hingga bekas luka itu masih sangat terasa hingga kini.
Bahkan hingga hari ini, akibat luka itu kita masih terbelah
dan masih sangat percaya pada sesuatu yang tidak benar-banar nyata dalam arti
sungguh.
Atas jasa mereka, Soeharto dan dibantu oleh Prof. Sadli,
Prof. Wijoyo Niti Sastro, dan sejumlah profesor ekonomi lulusan Berkeley University
AS mengesahkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967.
Tak berlebihan bila UU itu dibuat khusus hanya untuk
mengkavling-kavling bumi Nusantara dan memberikannya kepada pengusaha-pengusaha
AS. Gunung emas di Papua diserahkan kepada Freeport, ladang minyak di Aceh
kepada Exxon,
Sejak saat itu, sejarah atas penjajahan ekonomi dan sumber
daya alam kita dimulai. Sekali lagi kita mengalami masa tak lagi berdaulat atas tanah yang kita
pijak, hampir sama dalam setara seperti saat Belanda menjajah bumi Nusantara
sebelum 1945.
Kekayaan alam kita dikeruk tanpa kenal apa itu istirahat. 32
tahun berkuasa tanpa gangguan sekaligus usaha menumpuk kekayaan tak pernah
kenyang, adalah upah bagi Soeharto dan kroninya.
"Trus apa hubungannya dengan AS yang ga rela dengan
Jokowi?"
Melihat kegaduhan di dalam negeri tanpa melibatkan kacamata
geopolitik, mungkin ibarat pepatah seperti katak dalam tempurung. Kita melihat
dan kemudian omong dari ruang terbatas.
Kita berdebat tentang rasa yang makin panas di dalam rumah
dan saling ngotot hingga adu gagasan bahwa itu disebabkan oleh dunia yang juga
makin panas akibat teori pemanasan global dengan segala dalilnya, padahal rumah
tetangga sebelah, sejak 2 bulan yang lalu, sudah beralih fungsi menjadi tempat
pemanggangan roti misalnya.
Kita berdebat dari ketidaktahuan kita dan namun ngototnya
luar biasa. Kita ga mau mencari jawab hanya karena kita sudah merasa tahu dan
yakin
Bukankah perseteruan di antara negara-negara “besar”, China,
Rusia hingga Iran dengan AS dan kemudian meluasnya isu komunis hingga isus
Syiah tak mungkin berdiri sendiri?
Bukankah sesama saudara, tiba-tiba kita saling maki dan
bahkan sudah saling gebuk demi isu yang sama Komunis dan hingga isu Syiah?
Kita masih sibuk berdebat betapa anehnya rasa panas tak
wajar itu namun tak mau menengok apa yang sedang terjadi di luar sana sebagai
pembanding. Kita sudah merasa pintar hanya karena memiliki banyak dalil.
Pernah dengar Global War On Terrorism atau GWOT? Itu adalah
kebijakan baru yang dibuat oleh AS pada saat pemerintahan Bush.
Secara sederhana, GWOT adalah UU yang lahir karena sebab WTC
runtuh ditabrak pesawat yang dikendalikan oleh teroris pada 911. Maka, teori
serang dulu sarang teroris sebelum mereka sempat serang tanah AS, perlu dibuat.
Intinya, bisa saja suatu saat isu terorisme yang sengaja
dimunculkan, merupakan alat legitimasi AS untuk mengacak-acak suatu negara
berdaulat misalnya.
Bila suatu negara tidak sesuai dengan garis kebijakan
Washington, maka negara tersebut akan dengan mudahnya dicap sebagai negara
sponsor tindakan terorisme.
Sebagai contoh, mereka yang tak senang dengan Indonesia, dan
lalu ingin serang Indonesia, buat saja seolah Indonesia adalah sebagai sarang
teroris misalnya, maka UU dan rakyat AS akan dianggap telah mengijinkan hal
itu.
Lihat kejadian di Iraq, Suriah, Yaman, Libya, Bosnia dan
banyak kasus di mana AS terlibat dalam perang di luar negaranya. Bukankah
selalu tentang terorisme? Dan pada kasus terorisme itu, ada fakta selalu dibuat
terkait agama bukan?
Artinya sangat jelas, jangan beri kesempatan mereka menilai
negara kita adalah sebagai sarang kegiatan terorisme.
Isu Syiah vs Suni biasanya adalah tanda paling sederhana.
Itu terjadi pada banyak tempat dan Suriah adalah salah satunya. Maka hati-hati
lah ketika isu itu sudah mulai beredar.
Itu adalah awal dari bencana. Itu terjadi di manapun AS
terlibat. Ga percaya? Tanya Suriah dan Yaman.
Apakah AS akan dipersalahkan dengan tuduhan intervensi
contohnya, sejarah ga ada mencatat yang seperti itu. AS akan tetap dianggap sah
untuk berbuat itu karena UU memerintahkannya.
Seandainya menyerang langsung negara yang belum nyata-nyata
terbukti dukung terorisme dan AS tak punya alasan menyerang misalnya, membuat
UU yang akan memberi sanksi sekaligus embargo telah mereka persiapkan.
Membuat penggolongan seolah Rusia, dan Iran adalah sebagai
negara pendukung Terorisme membuat AS memiliki alasan membuat UU tentang
pemberian sangsi bagi siapapun yang berhubungan dengan ke dua negara itu.
Siapapun ngobrol apalagi berhubungan dagang dengan kelompok
negara yang telah dianggap mendukung terorisme adalah "salah"!!
Sanksi atau embargo dengan mudah dibenarkan secara hukum kepada negara itu.
Masih ga percaya? Tanya pak Menhan dah..!!
Ingat rencana pembelian jet tempur SU 35 kita ke Rusia? AS
mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia, bila tetap membeli
perlengkapan militer dari Rusia.
Dan anehnya, tanpa malu AS menawarkan F 16 dan namun menolak
ketika kita minta F 35 bukan?
Countering America's Adversaries Through Sanctions Act atau
CAATSA dibuat khusus untuk tujuan seperti ini.
Secara sederhana, CAATSA adalah alat legitimasi bagi AS
untuk menghukum siapapun yang berhubungan dengan Rusia dan Iran. Sadis??
"Adakah tanda-tanda bahwa Indonesia sedang
dibidik?"
Indonesia yang berjalan pada track benar di bawah Jokowi
memang telah membuat banyak negara terhenyak kagum. Menjadi negara dengan GDP
terbesar no 5 dunia seperti presiksi Worl Bank pada 2024 kelak, seharusnya
bukan sekedar rasa bangga saja kita harus bersorak.
Was-was dan hati-hati, dan terutama persatuan kita sebagai
sesama anak bangsa kita pererat, adalah kemutlakan yang harus menjadi pilihan
kemana kita melangkah.
Ramai isu PKI dan Syiah seharusnya cukup bagi kita paham
bahwa ada kekuatan asing sedang ingin bermain. Bukan istilah paranoid kita
perdebatkan, namun contoh dari banyak kejadian di luar sana memang berbicara
demikian.
Membuat sesama anak bangsa bertengkar demi perbedaan justru
digaungkan, telah membuat banyak tenaga kita terbuang percuma. Sia-sia kita
berteriak bahkan seandainya tanganpun terlibat. Perbedaan tak akan menjadi
indah justru ketika dibuat menjadi serupa.
Perbedaan itulah yang kini sedang dijadikan titik lemah
kita. Mereka yang melihat peluang itu tahu apa yang harus mereka lakukan.
Mempertajam dan kemudian mengirim pasokan bagi kebutuhan itu agar semakin tajam
dengan senang hati pasti dilakukan.
Belum terlalu lama AS serta merta menolak usulan Indonesia
sebagai Presiden Dewan Keamanan tak tetap PBB. AS memveto rancangan resolusi
yang digagas Indonesia terkait “penuntutan, rehabilitasi, dan reintegrasi (PRR)
teroris”.
Indonesia sebagai pimpinan tidak tetap Dewan Keamanan PBB
menginginkan adanya perlakuan yang fair terhadap eks kombatan Isis dengan cara
dituntut, direhabilitasi dan kemudian adanya reintegrasi.
Jawaban AS sederhana dan lugas, " jemput dan bawa
pulang eks kombatan ISIS ke negara dimana dulu dia berasal".
Ga nurut, veto!
AS keberatan bila eks ISIS itu harus dituntut,
direhabilitasi dan kemudian direintegrasi di Suriah.
Ya, disini tampak dengan jelas bagaimana kerangka berpikir
AS. Secara tidak langsung, AS ingin para kombatan eks Isis itu pulang dan
berkarya di negara asal. AS ingin Indonesia yang memiliki warga negara yang
turut hadir pada perang itu menjemputnya pulang.
Siapa di belakang ISIS, semua mahfum. Ada jejak tak dapat
ditolak AS atas Al qaeda dan kemudian untuk apa ISIS dibangun. Kini setelah
kalah, bisa jadi mereka justru merasa rugi bila harus dibiarkan nganggur.
Militan yang telah tercuci otaknya itu selalu berguna bagi
terpecahnya sebuah negara yang akan dibidik kelak.
Sangat mudah kita bayangkan bila mereka pulang. Isu Komunis
dan Syiah yang ditabur oleh siapapun, akan langsung membakar negara ini tanpa
ada peluang membuatnya kembali padam.
Sementara, kita semua paham bagaimana kondisi negara kita
saat ini. Tindakan provokatif dipamerkan mereka para kaum intoleran yang entah
karena apa selalu hadir demi panas suasana kehidupan berbangsa dan bernegara
sejak Jokowi menjabat Presiden.
Ada tendensi bahwa hal itu memang disengaja demi rusuh
suasana akibat segala kebijakan Presiden yang satu itu. Kebijakannya telah
membuat banyak pihak terancam dan namun secara pengecut mereka tak berani
menunjukkan diri.
Selalu tentang rakyat yang seolah tak setuju dengan
Presiden. Selalu memakai rakyat tak terdidik menjadi tameng.
Seharusnya, kita aware atas udang dibalik batu pemaksaan
memanggil pulang eks WNI mantan ISIS tersebut.
"Waduuhh, harus hati-hati dong ya?"
Menuduh pemerintah AS ada dibalik semua ini, jelas ngawur.
Sebagai negara, AS adalah negara utama penyokong demokrasi. Di sana HAM menjadi
garda terdepan bagi kehidupan yang lebih baik.
AS adalah negara utama dan terdepan dalam memerangi banyak
ketimpangan yang terjadi di dunia. AS sebagai negara, tidak mungkin melakukan
kejahatan seperti itu.
Bahwa ada kepentingan para kapitalis dibalik kebijakan AS,
itu cerita berbeda dan namun pasti akan disangkal.
Sama dengan kita dan pasangan kita. Melirik, menggoda dan
kemudian melacurkan suci ikatan pernikahan kita demi seseorang yang kita anggap
lebih OK, adalah awal kehancuran rumah tangga.
Genit kita kepada orang lain demi rasa tak puas terhadap
pasangan kita bukan tentang pihak luar yang kemudian mendekati kita yang
bersalah, kitalah sumber masalahnya.
Melacurkan diri dengan rela menjadi budak asing karena tak
puas dengan pemerintah sah dan kemudian mendapat bantuan demi kekuasaan, bukan
tentang siapa asing harus kita hajar, kitalah bagian atau sumber ketamakan itu.
Soeharto benar pernah mendapat bantuan AS demi menumbangkan
Soekarno, namun bukan berarti AS adalah penjahat yang harus kita musuhi.
Disana kesungguhan kita sebagai insan pertiwi yang lahir di bumi
Indonesia ini justru yang diminta untuk mengerti siapa seharusnya kita.
Siapapun diluar sana, selalu tentang untung dan rugi. Bukan
hanya AS, negara manapun akan membuka tangan lebar-lebar bagi para calon
sekutunya sepanjang itu menguntungkan.
Bahwa hari ini para kapitalis barat yang bersembunyi di
balik sosok negara akan membuka tangan lebar-lebar dari para pengkhianat
bangsa, tak dapat dipungkiri.
Mereka akan bertanya, "apa yang kami dapat? Freeport?
Morowali? Atau apa yang pantas. Sebutkan..!!"
Sementara semua sedang didiskusikan, penyusupan pun mulai
dilakukan.
Bahwa kekerasan agama yang dimulai dari isu tolak Komunis
dan Syiah seolah identik dengan cara-cara barat, tetap saja itu bukan salah
negara tersebut. Salah kita bermental pengecut dan khianat.
China, India, dan Indonesia mungkin akan terus dihalangi dan
diganggu sebagai calon peringkat 1,3 dan 5 dunia pada 2024 kelak dengan banyak
cara agar tak merebut posisi mereka yang saat ini masih bertengger sebagai
juara.
Apapun akan mereka lakukan demi menjadi nomor urut 1 sebagai
negara terkaya sekaligus terhebat di planet ini.
Menjadikan Indonesia jaya, bukan tentang memusuhi dan
menghajar mereka yang akan mengganggu kita, ini justru tentang ke Indonesiaan
kita yang sedang diuji.
Benar adanya, jalan pintas lebih mudah, namun keindahan
adalah tentang proses. Berpolitiklah secara benar karena hakikat kita
berpolitik dan berkuasa adalah tentang menjadi seorang pemimpin demi rakyat
banyak dan Indonesia jaya. Bukan yang lain-lain.
Mengorbankan rakyat, meski hanya satu dari 270 juta yang
ada, itu sudah salah, apalagi mengorbankan jutaan nyawa.
Itu pernah terjadi dan sampai hari ini kita masih trauma.
Dan ingat, di luar sana ada negara yang sedang galau dan
namun memiliki undang-undang yang dengan mudah akan melakukan intervensi bila
kita terkesan mengundangnya.
Mereka akan mudah menggunakan alat Countering America's
Adversaries Through Sanctions Act dan mengembargo kita ketika kita salah gaul
dengan negara yang tak mereka sukai.
Mereka akan mudah intervensi bahkan pasukannya masuk dengan
alasan Keamanan Nasionalnya yang terganggu oleh teroris dan dengan alasan
memiliki hukum sebagai perintah dari UU yang harus dijalankan yakni Global War
On Terrorism.
Dapatkah kita cegah? Mudah. Cara terbaik, jangan beri mereka
peluang atau alasan apalagi mengundangnya.
Dan ingat, release mereka terkait cukup banyak catatan
pelanggaran HAM pada negara kita baru-baru ini bukan tanpa maksud. Mereka
berkirim pesan.
Tak ada hal terlalu urgent, namun bukan berarti kita harus
abai. Itu sinyal mereka kirim sebagai bentuk sikap. Itu juga tentang ekspresi
wajah dari negara adidaya itu agar kita menilainya.
Indonesia adalah tentang saya, anda tanpa embel-embel
eksklusif Jawa hingga Papua, Islam hingga Hindu, atau apapun tentang latar
belakang kita. Kita satu Indonesia yang tak seharusnya kita tawar lagi meski
langit harus runtuh.
Ya, mari kita bersepakat menjadikan Indonesia yang maju
seperti seharusnya tanpa sekat dan kotak-kotak harus dibangun.
Para politisi kita harus mau mikirin tantangan geopolitik
ini. Colek @Budimanjatmiko satu dari sedikit manusia politik kita yang masih
sangat concern pada masalah seperti ini. Dia pula sebagai satu sebab saya masih
yakin bahwa tulisan seperti ini masih berguna.
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel
JPS, 9 Mei 2022.
__________________
Petral di Tengah Pusaran Politik
(Bisnis)
By Babo EJB
π© Dulu era Soeharto, ketika kita masih surplus minyak.
Produksi dan konsumsi lebih besar produksi,
ekspor Minyak jadi primadona.
Lantas gimana mengontrol ekspor tersebut ?
Pak Harto menyetujui dibentuk Agent yang punya hak monopoli perdagangan Minyak.
π© Maka dibentuklah Petral.
Petral ini perusahaan terdaftar di Singapore.
Pemegang sahamnya adalah:
▫️40% PT Pertamina,
(Persero)
▫️20% Bob Hasan,
▫️20% Tommy Soeharto dan
▫️20% sisanya yayasan karyawan Pertamina.
Namun dibalik Petral ada operator yang bertindak sebagai trader,
yaitu: group Bimantara,
dimana pemiliknya adalah Bambang Tri.
(putra Soeharto)
π© Namun pengelolaannya dipegang oleh Rosana Barack.
Sebetulnya tujuan Ideal Petral ini adalah menjamin pemasukan devisa negara dan sekaligus penjamin pasokan BBM dalam negeri.
π― Jadi bisnis Petral itu tak lebih bisnis monopoli atas Minyak kita.
Dari monopoli inilah semua pihak mendapatkan komisi secara legal.
π© Setelah reformasi,
tahun 2000,
susunan Pemegang saham Petral berubah.
Semua keluarga cendana dan kroni keluar.
π© 99,9% saham Petral dikuasai oleh Pertamina.
Apakah ini akhir dari bisnis rente ?
Tidak..‼️
Petral benar dikuasai Pertamina.
π Tetapi operator tetaplah swasta sebagai trader.
Memang ada banyak trader yang terdaftar,
namun dalam lelang,
yang menang itu itu saja.
Ya segelintir itu saja.
Siapa ⁉️
π© Dia adalah Murez.
Murez sebetulnya pendatang baru dalam bisnis minyak ketika itu.
Dia tadinya hanya sebagai broker jasa kapal tanker yang punya bisnis dengan Bimantara melalui Rosana Barack,
tangan kanan Bambang Tri.
π© Rosana Barack punya adik ipar namanya Surya Paloh. (SP)
Dengan dukungan kekuatan financial dari Rosano Barack inilah Murez bisa mengontrol setiap tender Petral dan menjadi pemenang.
Itu sebabnya hubungan Murez degan SP sangat dekat.
Maklum Murez sebetulnya menjalankan uang dan akses Rosano Barack,
yang notabene adalah kakak ipar SP
Dan lagi akses Murez ke pemerintah berkat hubungan dekat SP dengan Purnomo Yusgiantoro,
yang ketika era Soeharto staff Menteri Pertambangan energi,
Ida Bagus Sudjana dan kemudian staff SBY sebagai Mentaben era Gus Dur. Era SBY sebagai presiden,
Purnomo Yusgiantoro jadi Mentaben,
bisnis Murez di Petral semakin lancar.
Maklum teman lama yang jadi Mentaben.
Apalagi hubungan Murez dengan Hatta Rajasa,
orang kepercayaan SBY sangat dekat.
Kehebatan business connection ini adalah menjadikan Petral hanya sebagai alat saja.
Yang mengatur semua adalah Holding Company,
Global Energy Resources,
yang membawahi 5 perusahaan.
Gainsford Capital Limited,
dimana Jhoni Plate tangan kanan SP sebagai salah satu direktur bersama dengan Murez.
Group inilah yang mengatur pengadaan minyak dari mulai riset pasar,
tender,
pengaturan pemenang tender,
pengaturan harga termasuk titipan yang menjadi bagian bagi para anggota DPR,
pejabat Pertamina,
SKK Migas,
anggota kabinet,
elite partai.
π© Era Jokowi,
Petral dibubarkan.
Sebetulnya rencana pembubaran ini tidak diduga oleh SP dan Murez.
Ternyata Jokowi serius.
Itu sebabnya SP berusaha memasukan skema baru malalui Sociedade Nacional de Combustiveis de Angola EP
(Sonangol EP)
sebagai supply oil underkater.
Dimana boss Sonangol EP adalah sahabat SP sejak lama.
Tapi kandas..‼️
Malah Jokowi melangkah lebih jauh dengan melaporkan ke KPK kasus Petral ini.
Tetapi entah mengapa proses pengusutan mega skandal ini sangat lambat.
Sampai kini hanya menjangkau Menaging Director Petral.
Mastermind nya tidak tersentuh.
Lantas apa kerugian negara dengan adanya petral.
Dampak yang terasa merugikan adalah 20 tahun terakhir ini tidak ada satupun pembangunan kilang baru di Indonesia.
Sementara kilang yang ada jumlahnya sangat terbatas dan masih menggunakan teknologi lama.
Misal,
Pertamina memiliki 7 kilang,
tapi yang bisa beroperasi hanya 5.
Dari yang beroperasi,
hanya ada satu yang menggunakan teknologi baru,
yakni Balongan,
Empat kilang lainnya masih menggunakan teknologi lama.
Akibatnya kita semakin tergantung impor BBM.
Kalau dihitung secara materi mungkin jumlah triliun kerugian negara.
Bukan itu saja.
Dampak di tangki penyimpanan Pertamina hanya bisa mencukupi 18 hari konsumsi,
padahal 10 tahun yang lalu masih bisa 30 hari.
Inventory days yang pendek ini membuka peluang bagi trader untuk bisa menekan Pertamina untuk membeli dengan harga yang mereka mau,
atau BBM akan langka.
Dampaknya bisa chaos ekonomi.
Ini sejenis mind corruption yang di create secara sengaja oleh pelaku white collar crime.
Karena sebagian besar terlaksana berkat aturan yang dibuat pemerintah dan DPR dan operasinya menggunakan perusahaan cangkang,
yang tidak mudah melacak perpindahan uangnya dan transaksinya.
Petral adalah icon dari mega skandal tentang betapa brengseknya oligarki bisnis mengendalikan sumber daya negara dan menjarahnya secara legal berkat konspirasi politik.
Aktor itu sampai sekarang masih ada dan bagian dari elite politik negeri ini.
S. Paloh dan Nasdem nya
π¨
Akrobat Surya Paloh !!!
Ya saya tertawa geli melihat watak aslinya muncul dengan sangat terang benderang. Surya Paloh sejak awal sdh saya prediksi mulai mendirikan ormas Nasdem kemudian dirubah menjadi Partai NasDem, itu tidak lebih untuk menyalurkan birahi kekuasaan yg ingin dicapai. Setelah mencoba memposisikan sbg negarawan yg selalu menyuarakan demi NKRI , dengan Slogan RESTORASI yg sampai saat ini konsepsi RESTORASI tdk jelas.
Hebat.... selalu menyuarakan mendukung tanpa syarat dan mahar !!!! Publik sangat ingat betul bagaimana SLOGAN NASDEM ADALAH JOKOWI - JOKOWI ADALAH NASDEM, dan slogan ini cukup ampuh mendongkrak perolehan PILEG NASDEM pada pemilu 2019 lalu.
Ya.... itulah politik menurut saya dukungan NASDEM terhadap JOKOWI pd PILPRES 2019 saling menguntungkan baik bagi jokowi maupun NASDEM sendiri. Namun sekali lagi itulah politik.
Tampaknya Surya Paloh tdk mencapai target politik yg diharapkannya dan atau kecewa dg Presiden Jokowi dalam penyusunan Kabinet Indonesia Maju meskipun NASDEM mendapat 3 Menteri.
Sebaiknya Surya Paloh bermain lebih cantik dan elegan, MAAF JANGAN KAMPUNGAN/NORAK !!!! karena justru itu akan menurunkan derajatnya sendiri.
Disaat publik terperanjat oleh kelakuan DKI-1 karena Jajaranya membuat PERENCANAAN ANGGARAN BELANJA DKI 2020 yg ugal2xan alias tdk logis, justru diundang pada pembukaan Kongres NASDEM.
Dengan dalih apapun publik mentertawakan NASDEM yg mencoba meyakinkan Publik sbg Partai modern, demokratis, dan profesional justru didalam KONGRES NASDEM kemarin menelanjangi diri sendiri bukan sbg Partai Rakyat tetapi Partai Elit.
SURYA PALOH adalah NASDEM dan NASDEM adalah SURYA PALOH.
Untuk sekedar diketahui saja :
✓ Surya Paloh, istrinya punya kakak yg bernama Rosano Barak (Cano)
✓ SP dan Cano bisnis di perminyakkan nge-link dg Bambang Tri Atmodjo. Mrk dpt job bermain di LN.
✓ Rosano Barak (Cano) adalah second Man Bambang Tri A, dia sbg operator Kerajaan Bisnis Bimantara.
✓ Bimantara skrng Merger dg MNC Grup yg dipimpin Harry Tanoe S yg jg Ketua Perindo.
✓ Moch Reza Chalid (mafia minyak) sbg brokernya (DPO)
✓ Moch RC, justru muncul dlm Kongres Nasdem kemarin krn dia bergabung dg Nasdem
✓ Sekjen Nasdem (Jhoni Plate) yg skrng masuk jajaran kabinet Indonesia Maju, sudah lama menjadi orangnya Moch Reza C sejak dijaman kuliah.
So....
Perindo+Nasdem+Bimantara, bergabung dlm berpolitik dan bisnis di negara ini, huebaaaattπππ
Hiiiiiiiii......ngeri...ngeri...sedap...
π€«
Lebih cepat masyarakat membaca tulisan saya ini, lebih baik !!!!
Masih pantaskah Partai NASDEM didukung atau dipilih pada 2024 ??? π€·♂
JPS 24 Juni 2022
Sumber WAG: https://web.whatsapp.com/
_______________
MENGAPA DI UJUNG KEKUASAANNYA, JOKOWI MASIH SANGAT POPULER?
Sumber: WAH : AMIGOS HIMO TIONG, https://web.whatsapp.com/
- Berebut “Jokowi Effect” di Pilpres 2024
Denny JA
Isu perubahan yang diusung koalisi Capres Anies Baswedan saat ini tidak terlalu bergema. Ini ikut menyumbang elektabilitas Anies yang
masih kalah selisih dua digit ( di atas 10 persen) dibandingkan elektabilitas Ganjar Pranowo, terlebih lagi Prabowo Subianto.
Tapi mengapa isu perubahan tidak bergema? Jawabnya adalah hukum besi politik. Isu perubahan hanya bergema jika presiden yang berkuasa tidak populer. Akibatnya publik luas ingin suasana yang baru, berbeda, perubahan.
Sebaliknya, jika presiden yang berkuasa sangat populer, publik ingin kondisi itu justru berlanjut. Yang menyentuh mayoritas pemilih bukan isu perubahan, tapi justru isu untuk tetap bertahan. Continue. Lanjut!
Di ujung kekuasaannya, Jokowi masih sangat populer. Menjelang proklamasi 17 Agustus, approval rating, yang puas atas kinerja Jokowi selaku presiden masih sangat tinggi di angka 80 persen. Itu hasil survei LSI Denny JA yang baru saja selesai, beberapa hari lalu.
Jika survei itu diurut ke belakang, di bulan Januari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, hingga Agustus 2023, tingkat kepuasan atas kinerja Jokowi dalam survei LSI Denny JA, berkisar antara 79-82 persen. Itu tingkat kepuasaan yang teramat tinggi.
Bagi mereka yang menyadari data ini, tak akan mengusung isu perubahan. Yang harusnya diusung justru “Jokowi Effect,” efek kedekatan dengan Jokowi, efek melanjutkan program penting Jokowi.
Apa yang menyebabkan Jokowi masih sangat populer di ujung kekuasaannya? Itu gabungan antara kinerja dan personaliti Jokowo sendiri.
Akan halnya kinerja Jokowi, programnya soal Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, Hilirisasi, IKN, Infrastruktur, dan sebagainya, termasuk pro dan kontra, perlu dibahas tersendiri.
Di sini, dibahas satu sisi saja: personalitas Jokowi yang hadir di ruang publik. Penampilan Jokowi yang rendah hati, akrab dengan rakyat, menyapa (reaching out), ikut memberi kontribusi.
-000-
Minggu siang di akhir bulan Juli 2023, saya mendapatkan teks di japri WA. Itu teks dari ajudan Presiden. Ia mengabarkan bahwa Presiden ingin bertemu.
Saya datang ke Istana Merdeka, di hari Minggu. Suasana sepi di sana. Tapi protokol istana tetap terasa. Dari pintu khusus, dengan mobil golf saya di antar ke tempat Jokowi.
Di ujung meja panjang, duduk rileks saja Presiden Indonesia, Joko Widodo.
Rendah hatinya Jokowi sudah terasa dari kalimat pertama yang ia ucapkan. “Maaf, saya mengganggu hari libur Mas Denny. Tadi saya minta cek, apakah hari ini Mas Denny tidak di luar kota.”
Saya pun menjawab, “oh sama sekali tidak mengganggu, pak. Dipanggil presiden adalah sebuah kehormatan.”
Itu hari minggu. Jokowi rileks saja tidak berpakaian resmi.
Kami mengobrol santai saja. Terasa sikapnya yang santun, halus, dan cerdas secara emosional. Jokowi lebih banyak bertanya. Sesekali ia mencatat percakapan.
Kami berdiskusi berdua saja, sekitar 45 menit. Dalam percakapan itu saya sempat berkata.
“Ketika nanti selesai tugas di tahun 2024, usia Pak Jokowi masih tergolong sangat muda, 63 tahun. Dan Pak Jokowi masih sangat populer.
Di Indonesia, bahkan di dunia, sangat, sangat dan sangat jarang, di ujung kekuasaannya, seorang presiden mendapatkan tingkat kepuasaan (Approval Rating) hingga 80 persen.
-000-
Approval Rating itu bahasa riset yang standard dalam survei opini publik.
Approval rating menunjukkan persentase responden pada jajak pendapat yang menyetujui orang atau program tertentu. Setuju atau tidak setuju, dalam survei di Indonesia bahasanya acapkali diganti dengan puas atau tidak puas.
Peringkat persetujuan untuk presiden di Amerika Serikat pertama kali dilakukan oleh George Gallup pada tahun 1937. Gallup adalah seorang jajak pendapat terkenal Amerika Serikat, yang mendirikan Gallup Organization pada tahun 1935. Ia dianggap sebagai bapak polling opini publik modern.
Peringkat persetujuan tertinggi untuk seorang presiden pada akhir masa jabatannya adalah 90% untuk Franklin D. Roosevelt pada tahun 1945.
Roosevelt presiden selama Perang Dunia II dan peringkat persetujuannya melonjak setelah kemenangan Sekutu.
Peringkat persetujuan terendah untuk seorang presiden di Amerika
Serikat pada akhir masa jabatannya adalah 22% untuk Harry Truman pada tahun 1952. Truman adalah presiden selama Perang Korea dan peringkat persetujuannya menurun seiring perang berlarut-larut.
Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi peringkat persetujuan presiden, termasuk keadaan ekonomi, peristiwa kebijakan luar negeri, dan personalitas presiden.
Misalnya, presiden cenderung memiliki peringkat persetujuan yang lebih tinggi saat perekonomian berjalan baik dan peringkat persetujuan lebih rendah saat perekonomian berjalan buruk.
Tradisi di Indonesia, umumnya presiden berakhir buruk di ujung kekuasaannya. Bung Karno jatuh. Pak Harto jatuh. Laporan Presiden Habibie ditolak MPR.
Gus Dur juga jatuh. Megawati tidak dipilih kembali sebagai presiden, dikalahkan oleh SBY. Dan SBY pun di ujung kekuasaanya menurun tingkat populeritasnya, yang berimbas jatuhnya perolehan suara Partai Demokrat pada pemilu 2014.
Jokowi keluar dari tradisi presiden Indonesia. Ia justru sangat populer di ujung kekuasaannya.
-000-
Dalam pidato kenegaraan 16 Agustus 2023 di gedung MPR/DPR/DPD, Jokowi menyatakan:
“Saya tahu ada yang mengatakan Saya ini bodoh, plonga-plongo, tidak tahu apa-apa, Fir’aun, tolol. Ya nda apa, sebagai pribadi saya menerima saja.”
“Tapi yang membuat saya sedih budaya santun budi pekerti luhur bangsa ini, kok kelihatannya mulai hilang? Kebebasan dan demokrasi digunakan untuk melampiaskan kedengkian dan fitnah."
"Polusi di wilayah budaya ini sangat melukai keluhuran budi pekerti bangsa Indonesia," ujarnya.”
Sampai berakhir tugasnya, semoga Jokowi tetap rendah hati, tak terganggu dikritik, tetap bersahaja, dan
populer. Ini agar kita memulai tradisi yang berbeda. Presiden di Indonesia jangan justru jatuh di ujung kekuasaanya.
Kita justru harus menjauh dari apa yang dikatakan dalam puisi Kahlil Gibran. “Celakalah sebuah negeri, yang membunyikan terompet dan bertepuk tangan menyambut pemimpin baru. Namun melepas pemimpin itu dengan cemooh dan cacian di ujung kekuasaannya.”
Masih sangat populernya Jokowi di ujung kekuasaan adalah tradisi yang baik untuk dilanjutkan oleh Presiden Indonesia berikutnya.*
17 Agustus 2023
__________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar