Keberagaman
masyarakat Dukuh Kalipuru, Kabupaten Kendal terpancar jelas dari
penghormatannya pada masing-masing agama. Tiga hari dalam seminggu, ada
satu hari yang menjadi penanda untuk penghormatan agama lain.
Empat
rumah ibadah di dukuh itu berdiri saling berdekatan di sepanjang jalan
tak kurang dari 500 meter. Masjid at-Taqwa, Gereja Kristen Jawa (GKJ)
Boja, Mushala Suwuan, dan Pura Sita Nirmala Jati.
Selain yang
beragama, para penghayat kepercayaan juga hidup berdampingan. Ada tiga
hari yang disepakati oleh warga untuk sekadar penghormatan. Hari Rabu
untuk agama Hindu, Kamis untuk agama Kristen dan Jumat untuk agama
Islam.
"Warga sudah tahu ada hari agamanya masing-masing. Warga
juga memiliki tempat ibadahnya sendiri-sendiri," papar Ponidjan, tokoh
Hindu dukuh Kalipuru, belum lama ini.
Jalan damai dari warga yang
berbeda agama itu buah dari kesepakatan tak tertulis dari warga. Sebelum
tahun 1999, kedamaian sudah ada, tapi tidak terjalin dengan baik.
Sebelum 1999, warga terbiasa untuk menghadiri perayaan agama tanpa ada
aturan.
Mereka yang beragama lain bisa secara berkala mengikuti
kegiatan agama lain dengan meninggalkan agama sebelumnya, begitu
sebaliknya. Tahun 1999, sebuah kesepakatan itu lahir. Mereka tetap pada
agama aslinya, datang untuk sekadar penghormatan.
"Kami sudah ada
kesepakatan dari masyarakat, untuk tidak mengejek agama. Traktat itu tak
tertulis, namun telah disepakati secara budaya sejak tahun 1999.
Sebelum itu, warga terbiasa ikut sana-sini, mengikuti berbagai agama
yang ada," tambah dia.
Selain hal tersebut, keberagamaan di
Kalipuru bisa kokoh lantaran sudah terjalin sejak lama. Ponidjan
beranggapan bahwa keragaman yang ada bersumber dari turun-temurun.
Masyarakat
setempat yakin suatu agama sesungguhnya mengajarkan kebaikan. Hanya,
perilaku manusianya memang tidak sama. Ada yang baik dan tidak baik.
"Kami murni dari keturanan. Tidak ada pendatang dari luar," tambahnya.
Secara
umum, penganut agama Islam di Kalipuru masih menjadi mayoritas. Agama
Hindu nomor dua dengan pengikut sekitar 159 orang dari 45 kartu
keluarga. Sementara agama Kristen mempunyai pengikut ketiga, disusul
penganut kepercayaan, ada segelintir orang saja.
Warga juga
umumnya bermata pencariaan sebagai petani. Baik warga Hindu Kalipuru
maupun masyarakat setempat masih sangat mempercayai ada hukum karma.
Jika ada orang berlaku baik, diyakini akan mendapat kebaikan, begitu
sebaliknya.
Ponidjan memilih untuk memegang prinsip hidup itu apa,
setelah hidup mau apa, dan apa yang mau dilakukan di kehidupan. Untuk
itu, selagi masih bisa menolong dan membantu, itu akan dilakukan.
"Kami
di sini masih yakin pada hukum Karmapala. Jadinya di dusun ini selama
ini tidak ada konflik beragama. Jika ada yang mengusik, biasanya akan
mental. Dulu pernah ada jaga yang mencoba merusak tatanan, tapi
enggak betah," paparnya.
Namun,
seiring perkembangan waktu, harmoni dari warga perlahan memudar. Antara
satu agama dengan agama lain komunikasi mereka mulai menurun. Kendati
begitu, kehidupan keberagamaan warga masih terjalin baik. (
bersambung)
Inilah Contoh Kecil Pluralitas Indonesia di Pelosok Kendal (III)
Empat
rumah ibadah yang dibangun berdampingan di Dukuh Kalipuru, Kendal, Jawa
Tengah menjadi contoh kecil pluralitas masyarakat Indonesia yang begitu
tinggi.

Empat Rumah Ibadah berdiri berdampingan. Dari foto ada Masjid, Gereja, Musholla dan Pura. (
Nazar Nurdin/Kompas.com)
Empat
rumah ibadah yang dibangun berdampingan di Dukuh Kalipuru, Kendal, Jawa
Tengah menjadi contoh kecil pluralitas masyarakat Indonesia yang begitu
tinggi. "Saya pikir Kalipuru ini adalah Indonesia kecil. Semua agama
hidup rukun di sini, sesuai Pancasila," ujar Kepala Desa Kalirejo,
Kecamatan Singorojo, Marsudi, pekan lalu.
Ungkapan Marsudi itu
berangkat dari kondisi toleransi antar warga Dukuh Kalipuru yang tinggi.
Dia mengakui, bukan kebijakannya sebagai Kades yang membuat toleransi
itu menguat. Sikap hormat-menghormati di antara warga di dukuh itu
memang sudah ada turun-temurun.
"Agama di Kalipuru tidak pernah
dipermasalahkan. Meski pendidikan kami rendah, tapi kami bisa menjaga
kebersamaan, itu sudah tertata sejak dulu. Mungkin pendiri desa ingin
seperti itu," papar Marsudi.
Warganya, menurut Marsudi, sudah
tidak lagi memikirkan persoalan agama. Hidup lama berdampingan dengan
warga berlainan agama sudah cukup dengan tidak menyinggung agama.
Apalagi, warga juga sudah terbiasa hidup bersama, berkegiatan bersama.
Di
kalangan anak kecil, orangtua juga mendidik anak mereka untuk menjaga
sikap toleran tersebut. Sembari belajar di sekolah, anak-anak Dukuh
Kalipuru bercengkrama akrab antar penganut agama.
Lingkungan
membentuk sang anak untuk belajar toleran. "Anak-anak kecil di sini
tidak dijajari soal agama apa yang benar. Mereka sudah faham dengan
lingkungan yang ada. Ketika ikut ke gereja atau pura, atau ada acara
agama, mereka datang dan makan seperti biasanya. Tidak ada kekawatiran
bahwa makanan berasal dari barang yang haram, atau tidak baik. Semua
sudah faham, dan hal itu sudah lewat," tambah dia.
Di atas semua
itu, Marsudi ingin agar pola pengajaran anak-anak tetap berbasis
lingkungan yang ada. Ia tak ingin ada warga lain yang merusak dengan
mengajarkan kefanatikan pada agama tertentu. Baginya, kedamaian dan
toleransi antara warga lebih penting dibanding fanatisme atas suatu
agama.
"Kunci beragama di Kalipuru ini menurut saya, mengajarkan warga untuk tidak fanatik pada agama. Itu kuncinya," ujar Marsudi.
(Nazar Nurdin/Kompas.com)
Kisah Kerekatan Hubungan Sosial di Pelosok Kendal (IV)
Kerekatan
hubungan sosial di kalangan masyarakat Dukuh Kalipuru, Desa Kalirejo,
Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, ternyata diakui banyak pihak.

Empat Rumah Ibadah berdiri berdampingan. Dari foto ada Masjid, Gereja, Musholla dan Pura. (
Nazar Nurdin/Kompas.com)
Kerekatan
hubungan sosial di kalangan masyarakat Dukuh Kalipuru, Desa Kalirejo,
Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, ternyata diakui banyak pihak.
Supriyanto
(36), pemuka agama Kristen di desa setempat, mengaku mempunyai
pengalaman berharga ketika bersinggungan dengan warga beragama lain.
Seperti lazimnya tradisi yang berlaku, membangun sebuah rumah biasanya
dilakukan dengan mengundang tetangga terdekat.
Kala itu, Supri
mengundang para tetangga untuk sekadar ikut membantu proses perbaikan.
Warga pun diundang, hingga ia tak pernah menyangka bahwa jumlah warga
yang datang untuk ikut membantu mencapai tiga kali lipat.
"Hubungan sosial di Kalipuru ini baik. Saat saya punya
gawe
bangun rumah, dulu saya undang tetangga 15 orang, tetapi yang hadir
berapa coba? 50 orang. Artinya, mereka membantu dengan tanpa pamrih.
Mereka tidak memandang agama yang dianut warga, meski saya ini Nasrani,"
kata Supri, awal pekan ini.
Gotong royong
Semangat
warga untuk gotong royong diakuinya sangat kuat. Warga tidak
membeda-bedakan kepercayaan dan agama yang dianutnya. Bagi masyarakat,
agama apa pun diyakini mengajarkan kebaikan dan menolak keburukan.
Hal
ini telihat jelas dari setiap kegiatan atau ruang publik tempat warga
berkumpul. Masyarakat setempat pun tidak melihat perbedaan agama, serta
sudah sepakat tidak akan mempermasalahkan perbedaan agama.
"Agama
itu tidak boleh didiskusikan, tetapi dipraktikkan. Kalau diskusi, terus
nanti banyak ego yang muncul," ujar pria yang kini merangkap sebagai
carik atau sekretaris di Desa Kalirejo.
Secara umum, warga Kristen
di Dukuh Kalipuru berjumlah 80 jiwa dari 15 keluarga. Mereka biasanya
beribadah di Gereja Kristen Jawa yang terletak di jalan kampung, yang
bersebelahan dengan tiga tempat ibadah lain.
Warga Kristen ini
melaksanakan kegiatan keagamaan setiap Kamis. Agama Kristen di Kalipuru
merupakan agama mayoritas ketiga setelah Islam dan Hindu. Kristen masuk
di Kalipuru pada tahun 1980 melalui kakek Supriyanto, Mbah Ayik.
Berdampingan
Seperti
kebanyakan warga desa lainnya, mayoritas warga Kristen bermata
pencahariaan sebagai petani. Warga dengan agama lain juga mayoritas
bekerja sebagai petani. Mereka tetap bisa hidup rukun, damai, tanpa
persoalan yang amat berarti.
Supriyanto menjelaskan, tempat
tinggal warga satu dan lainnya yang berbeda agama juga tidak ada sekat.
Antara penganut satu agama dan agama lain tinggal berdampingan sehingga
jalinan toleransi semakin kuat.
"Warga di sini tinggalnya acak,
tidak menyendiri atau dikomplekskan jadi satu. Rata-rata warga, entah
itu Kristen, Islam, atau Hindu, bertetangga, dan semuanya tidak pernah
jadi masalah, berjalan baik seperti biasanya," paparnya.
Empat
rumah ibadah yang ada di Kalipuru sudah dibangun berdampingan sejak
lama. Jalan kampung yang terbentang tidak lebih dari 500 meter itu
menjadi penanda penting keberagaman Kalipuru. Perbedaan agama tidak
menjadi penghalang untuk menjunjung tinggi toleransi dan gotong royong
di tengah kehidupan sehari-hari.
(Nazar Nurdin/Kompas.com)