Rabu, 11 Desember 2024

SHERLY TJOANDA: SOSOK PEREMPUAN HEBAT

 SHERLY TJOANDA: SOSOK PEREMPUAN HEBAT


Sherly Tjoanda: 

Kemajemukan  bukanlah  kelemahan tetapi kekuatan

Pemilih yang  baik (berintegritas) menghasilkan pemimpin yang baik (berintegritas). 

Kuat karena Tuhan . Tuhan adalah  kasih (cinta). 

Hidup ini  milik Tuhan

Mungkin Tuhan mau  supaya mendiang suami saya, Beny Laos  mau menjadi gubernur di Surga, makanya dia panggil. . 


JPS, 11 Desember 2024. 






Senin, 09 Desember 2024

PILKADA DKI JAKARTA 2024: OPINI

 PILKADA  DKI JAKARTA 2024: OPINI


Pilkada Jakarta: Kemenangan Politik "Riang Gembira

Andang Subaharianto Dosen Antropolog, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/12/09/10325761/pilkada-jakarta-kemenangan-politik-riang-gembira?page=all#page4

Artikel ini telah tayang di 
Kompas.com dengan judul "Pilkada Jakarta: Kemenangan Politik "Riang Gembira"", Klik untuk baca: https://megapolitan.kompas.com/read/2024/12/09/10325761/pilkada-jakarta-kemenangan-politik-riang-gembira?page=all#page4.

" Kompas.com - 09/12/2024, 10:32 WIB

Editor : Sandro Gatra

Kompascom+ baca berita tanpa iklan: 
https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: 
https://kmp.im/app6

Artikel ini telah tayang di 
Kompas.com dengan judul "Pilkada Jakarta: Kemenangan Politik "Riang Gembira"", Klik untuk baca: https://megapolitan.kompas.com/read/2024/12/09/10325761/pilkada-jakarta-kemenangan-politik-riang-gembira?page=all#page4.

Editor : Sandro Gatra



MASYARAKAT Jakarta terbukti lebih menyukai politik “riang gembira” yang ditawarkan pasangan Pramono Anung-Rano Karno. KPU Jakarta telah menetapkan pasangan Pramono-Rano sebagai pemenang satu putaran pada Pilkada Jakarta 2024. Pasangan ini memperoleh suara sebanyak 50,07 persen, atau 2.183.239 suara dari jumlah pemilih yang menggunakan hak suara. Sementara itu, Ridwan Kamil-Suswono didukung 1.718.160 suara dan Dharma Pongrekun-Kun Wardana sebanyak 459.230 suara (Kompas.com, 08/12/2024). Kemenangan politik “riang gembira” tentu saja menarik dibaca. Jakarta terbukti tidak serta merta bisa dibaca menggunakan cara pandang yang sama dengan daerah lain. Pramono-Rano bukan pasangan yang telah disiapkan jauh-jauh hari untuk tarung memperebutkan kursi gubernur-wakil gubernur Jakarta. Pasangan ini “dijodohkan” menjelang pendaftaran di KPU Jakarta.

Itu pun berkat putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 60/PUU-XXII/2024 yang membatalkan Pasal 40 Ayat (1) UU Pilkada. Batasan 20 persen kursi atau 25 persen suara sah pemilu anggota DPRD dibatalkan.

Putusan tersebut tentu saja menguntungkan parpol. Tak hanya parpol peserta Pemilu 2024 nonparlemen, tapi juga parpol peraih kursi di DPRD, baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. Parpol tidak terkunci strategi koalisi besar. Dalam konteks Jakarta, semula hanya ada pasangan Ridwan Kamil-Suswono yang didukung koalisi besar, Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus dan pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana dari jalur independen. Ridwan Kamil diusulkan Partai Golkar, dan Suswono dicalonkan PKS. Putusan MK Nomor 60/PUU-XXII/2024 membuka kesempatan PDI-P. Semula PDI-P tak mendukung koalisi besar, tapi juga tak bisa mengusung calon sendiri. Parpol asuhan Megawati Soekarnoputri itu terkunci. Kesempatan di menit-menit terakhir itu dimanfaatkan PDI-P untuk mengusung calon sendiri. Namun, PDI-P tidak juga segera memutuskan figur yang diusung. Terjadi dinamika dan tarik-menarik yang kuat di internal antara mengusung Anies Baswedan yang elektabilitasnya masih memuncaki berbagai survei dan kader sendiri. Nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai kader PDI-P masih kompetitif berdasarkan survei sejumlah lembaga. Namun, kematangan sang ketua umum, Megawati Soekarnoputri, teruji ketika harus memutuskan siapa yang diusung partainya untuk Jakarta. Baca juga: Sentilan Tim Pramono-Rano Kala Kemenangannya Dipertanyakan... PDI-P, menurut saya, akhirnya memilih jalan “soft”. Tak mengusung Anies, meski berpeluang mengalahkan jagoan KIM Plus, tapi kontraksi secara internal cukup tinggi. Pilihan pun jatuh pada Pramono Anung dan Rano Karno. Pramono adalah kader senior PDI-P yang telah lama menjadi “orang Istana”. Dia dikenal cukup dekat dengan berbagai kalangan, termasuk elite KIM Plus, meski tak banyak dikenal oleh publik. Profil Pramono “melembutkan” relasi politik antara PDI-P dan Istana yang sejak pemilihan presiden tegang. Pramono lalu dipasangkan dengan Rano Karno sebagai wakil gubernur. Rano Karno menambah profil “soft” pasangan tersebut. Dia adalah seniman, berpengalaman mengelola Provinsi Banten, dan memiliki citra kuat mewakili komunitas Betawi melalui Si Doel. Wajah lembut pasangan Pramono-Rano semakin terbentuk dengan penunjukkan Lies Hartono sebagai Ketua Tim Pemenangan. Dia bukan tokoh politik, tapi seorang komedian yang terkenal dengan sebutan Cak Lontong. Rupanya Megawati Soekarnoputri tetap meyakini bahwa politik adalah kerja keras di lapangan, bukan popularitas survei. Semula pasangan Pramono-Rano tak pernah diperhitungkan. Pelan tapi pasti elektabilitasnya merangkak naik menurut survei. Ujungnya KPU Jakarta menetapkannya sebagai pemenang satu putaran. Tampak sekali bahwa pasangan Pramono-Rano memang diturunkan untuk bertarung di lapangan politik. Mereka harus bekerja keras di lapangan. Membaca wajah dan isi pikiran warga Jakarta dengan saksama dan dalam tempo pendek. Di mata saya, pilihan narasi pasangan Pramono-Rano sangat cerdas untuk warga Jakarta yang sehari-hari dibebani hidup serba serius dan menegangkan. Tawaran politik “riang gembira” dengan komandan pemenangan Cak Lontong, menurut saya, merefleksikan kecerdasan dan kepekaan pasangan Pramono-Rano terhadap kompleksitas Jakarta dari berbagai aspek. Dengan politik “riang gembira” hendak didekonstruksi kehidupan politik yang selama ini cenderung dimengerti dan dijalani sebagai aktivitas yang berat, penuh sinisme, ketegangan dan permusuhan. Sejauh ini politik cenderung menampilkan sinisme, prasangka buruk, ketegangan dan permusuhan. Sebaliknya, politik “riang gembira” diasumsikan menampilkan optimisme, keselarasan, dan penyatuan. Politik “merangkul”, bukan “memukul”. Hal itu tampak sekali dari cara dan gaya Pramono-Rano mendekati warga Jakarta. Prinsip “merangkul” sangat tampak terhadap warga Jakarta, baik retorika dan tindakannya. Bahkan, Pramono-Rano sukses menyatukan pendukung Anies dan Ahok yang masih relatif kuat di Jakarta, yang sejauh ini bersimpang jalan. Dari sisi retorika, pasangan Pramono-Rano tampak memiliki kepekaan tuturan. Praktis tak ada retorika yang membuat blunder. Agak berbeda dengan Ridwan-Suswono, yang blunder saat bicara soal janda. Hal ini sesungguhnya merefleksikan pemahaman mereka, yang bisa dinilai tak paham dan tak peka soal gender. Apalagi untuk warga Jakarta, yang dari segi pendidikan dan ekonomi serta kesadaran gender boleh jadi jauh lebih baik daripada daerah lain.



Saya melihat, metode Cak Lontong berkomedi dipakai menerjemahkan paradigma politik “riang gembira”. Pramono-Rano memilih Cak Lontong bukan hanya populer, tapi memahami cara komedinya yang dipandang cocok untuk menerjemahkan politik “riang gembira”. Cak Lontong membangun komedinya dengan mendekonstruksi realitas. Ia membolak-balik, melipat-lipat kata/bahasa yang lazim (biasa) dipakai masyarakat. Cak Lontong lalu mengajak merekonstruksi realitas – dan ini menjadi kekhasan komedinya – dengan mengatakan “mikir”. Cak Lontong mengajak kita meledek realitas atau pandangan umum yang selama ini biasa kita jalani. Bisa jadi, di dalam realitas atau pandangan umum yang sudah biasa itu ada sesuatu yang salah, tapi dibenar-benarkan, yang tak patut tapi dipatut-patutkan, yang tak lazim tapi dilazim-lazimkan. Begitulah, realitas atau pandangan umum bisa saja dipenuhi kekonyolan, keganjilan, ketololan. Dalam konteks ini, Cak Lontong mengajak menyadari kekonyolan, keganjilan, ketidakpatutan yang ada di dalamnya. Mengajak mendekonstruksi, sekaligus rekonstruksi. Gaya komedi Cak Lontong berhasil mengocok perut penonton, karena kita tak merasakan ada kekonyolan, keganjilan dan ketololan dalam hidup sehari-hari. Tatkala normalisasi kekonyolan, keganjilan dan ketololan itu diledek oleh Cak Lontong, kita tertawa. Ternyata ada yang lucu (aneh) dalam keseharian kita, yang dilanggengkan melalui kata/bahasa. Warga Jakarta telah memilih. Ternyata yang banyak dipilih bukan yang banyak didukung parpol dan disokong pula oleh presiden dan mantan presiden. Yang dipilih adalah pasangan yang nyata bekerja keras dan cerdas memahami aspirasi warga Jakarta.


 

Cak Lontong, Dekonstruksi, dan Politik "Riang Gembira"

Andang Subaharianto Dosen Antropolog, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

https://nasional.kompas.com/read/2024/09/17/08330281/cak-lontong-dekonstruksi-dan-politik-riang-gembira?page=3

Artikel ini telah tayang di 
Kompas.com dengan judul "Cak Lontong, Dekonstruksi, dan Politik "Riang Gembira"", Klik untuk baca: https://nasional.kompas.com/read/2024/09/17/08330281/cak-lontong-dekonstruksi-dan-politik-riang-gembira?page=2.


Kita tahu, orang menangkap realitas tidak secara telanjang, tapi melalui institusi kata/bahasa (tanda). Melalui kata/bahasa itulah realitas sampai kepada manusia, sehingga dapat pula dikatakan bahwa realitas berlangsung di dalam kata/bahasa. Cara pandang kita terhadap realitas bisa dilihat dari kata/bahasa kita. Selanjutnya, kata/bahasa juga memengaruhi pandangan/pikiran. Keluasan kata/bahasa yang kita kuasai berpengaruh terhadap keluasan pandangan/pikiran. Dengan demikian, bahasa bukanlah instrumen netral, sekadar menjembatani manusia dengan objek di luar dirinya, tetapi diatur dan dihidupkan pula oleh pengucapan-pengucapan yang berpamrih. Sejauh bahasa adalah produksi simbolis, ia tak terpisahkan dari pamrih penutur. Setiap pernyataan yang dihasilkan sesungguhnya adalah tindakan berpamrih, tindakan penciptaan realitas dan makna-makna. Cak Lontong membangun komedinya dengan mendekonstruksi realitas. Ia membolak-balik, melipat-lipat kata/bahasa yang lazim (biasa) dipakai masyarakat. Cak Lontong lalu mengajak merekonstruksi realitas – dan ini menjadi kekhasan komedinya – dengan mengatakan “mikir”. Saya menangkap, Cak Lontong seperti mengajak kita meledek realitas atau pandangan umum yang selama ini biasa kita jalani.

 

Padahal, bisa jadi, di dalam realitas atau pandangan umum yang sudah biasa itu sesuatu yang salah dibenar-benarkan, yang tak patut dipatut-patutkan, yang tak lazim dilazim-lazimkan. Begitulah, realitas atau pandangan umum bisa saja dipenuhi kekonyolan, keganjilan, ketololan. Dalam konteks ini, Cak Lontong mengajak menyadari kekonyolan, keganjilan, ketidakpatutan yang ada di dalamnya. Dekonstruksi sekaligus rekonstruksi. Gaya komedi Cak Lontong berhasil mengocok perut penonton, karena kita tak merasakan ada kekonyolan, keganjilan dan ketololan dalam hidup sehari-hari. Tatkala normalisasi kekonyolan, keganjilan dan ketololan itu diledek oleh Cak Lontong, kita tertawa. Ternyata ada yang lucu (aneh) dalam keseharian kita, yang dilanggengkan melalui kata/bahasa

Hegemoni kekuasaan Kata/bahasa yang diacak-acak Cak Lontong itu sebelumnya sesak dengan hegemoni kekuasaan. Tentu aja kekuasaan yang berpamrih. Di zaman yang diklaim super modern sekarang ini, sering pula disebut neoliberalisme, pamrih yang dimaksud tak jauh dari ekonomi berserta turunannya. Seluruh ruang kehidupan nyaris diisi perebutan sumber daya ekonomi. Beruntunglah mereka yang telah menguasai sumber-sumber kekuasaan, di antaranya politik, ekonomi, ilmu pengetahuan/teknologi/informasi, dan sebagainya. Kekuasaan memiliki seleranya sendiri. Kekuasaan turut menentukan perbincangan, kebijakan, menetapkan nilai baik-buruk, tinggi-rendah, dan sebagainya. Ruang kehidupan dengan sendirinya akan dipenuhi sistem, pola, logika, citarasa tertentu sesuai selera kekuasaan tertentu pula. Sayangnya, selera itu tak memberikan tempat buat rakyat kebanyakan. Rakyat tersisih.


Kita tahu, orang menangkap realitas tidak secara telanjang, tapi melalui institusi kata/bahasa (tanda). Melalui kata/bahasa itulah realitas sampai kepada manusia, sehingga dapat pula dikatakan bahwa realitas berlangsung di dalam kata/bahasa. Cara pandang kita terhadap realitas bisa dilihat dari kata/bahasa kita. Selanjutnya, kata/bahasa juga memengaruhi pandangan/pikiran. Keluasan kata/bahasa yang kita kuasai berpengaruh terhadap keluasan pandangan/pikiran. Dengan demikian, bahasa bukanlah instrumen netral, sekadar menjembatani manusia dengan objek di luar dirinya, tetapi diatur dan dihidupkan pula oleh pengucapan-pengucapan yang berpamrih. Sejauh bahasa adalah produksi simbolis, ia tak terpisahkan dari pamrih penutur. Setiap pernyataan yang dihasilkan sesungguhnya adalah tindakan berpamrih, tindakan penciptaan realitas dan makna-makna. Cak Lontong membangun komedinya dengan mendekonstruksi realitas. Ia membolak-balik, melipat-lipat kata/bahasa yang lazim (biasa) dipakai masyarakat. Cak Lontong lalu mengajak merekonstruksi realitas – dan ini menjadi kekhasan komedinya – dengan mengatakan “mikir”. Saya menangkap, Cak Lontong seperti mengajak kita meledek realitas atau pandangan umum yang selama ini biasa kita jalani.

Padahal, bisa jadi, di dalam realitas atau pandangan umum yang sudah biasa itu sesuatu yang salah dibenar-benarkan, yang tak patut dipatut-patutkan, yang tak lazim dilazim-lazimkan. Begitulah, realitas atau pandangan umum bisa saja dipenuhi kekonyolan, keganjilan, ketololan. Dalam konteks ini, Cak Lontong mengajak menyadari kekonyolan, keganjilan, ketidakpatutan yang ada di dalamnya. Dekonstruksi sekaligus rekonstruksi. Gaya komedi Cak Lontong berhasil mengocok perut penonton, karena kita tak merasakan ada kekonyolan, keganjilan dan ketololan dalam hidup sehari-hari. Tatkala normalisasi kekonyolan, keganjilan dan ketololan itu diledek oleh Cak Lontong, kita tertawa. Ternyata ada yang lucu (aneh) dalam keseharian kita, yang dilanggengkan melalui kata/bahasa. Hegemoni kekuasaan Kata/bahasa yang diacak-acak Cak Lontong itu sebelumnya sesak dengan hegemoni kekuasaan. Tentu aja kekuasaan yang berpamrih. Di zaman yang diklaim super modern sekarang ini, sering pula disebut neoliberalisme, pamrih yang dimaksud tak jauh dari ekonomi berserta turunannya. Seluruh ruang kehidupan nyaris diisi perebutan sumber daya ekonomi. Beruntunglah mereka yang telah menguasai sumber-sumber kekuasaan, di antaranya politik, ekonomi, ilmu pengetahuan/teknologi/informasi, dan sebagainya. Kekuasaan memiliki seleranya sendiri. Kekuasaan turut menentukan perbincangan, kebijakan, menetapkan nilai baik-buruk, tinggi-rendah, dan sebagainya. Ruang kehidupan dengan sendirinya akan dipenuhi sistem, pola, logika, citarasa tertentu sesuai selera kekuasaan tertentu pula. Sayangnya, selera itu tak memberikan tempat buat rakyat kebanyakan. Rakyat tersisih.

Dengan demikian, politik tak lain adalah ruang negosiasi selera para pihak. Sayangnya, negosiasi selera para pihak itu tak ada yang bernama rakyat. Para pihak menegosiasikan kepentingan sendiri, tak memperjuangkan kepentingan rakyat. Rakyat hanya ditampilkan sebagai pemanis belaka, orang Jawa bilang “abang-abang lambe”. Diucapkan hanya sebagai pantas-pantasan tanpa kewajiban pembuktian. Karena itulah, politik cenderung menampilkan sinisme, prasangka buruk, ketegangan dan permusuhan. Yang sesungguhnya antarelite belaka, tapi atas nama rakyat.

Politik cenderung memukul, bukan merangkul; cenderung menegangkan, bukan merukunkan; cenderung menceraiberaikan, bukan menyatukan. Politik yang cenderung merangkul, merukunkan dan menyatukan adalah politik yang membuka partisipasi nyata rakyat seluas-luasnya; mengajak seluas-luasnya segmen sosial masyarakat. Politik yang madunya bisa dinikmati semua warga masyarakat. Itulah politik “riang gembira”.


Kembali pada jati diri Kemerdekaan Indonesia diraih dengan tetesan darah dan air mata. Proklamasi kemerdekaan, menurut Bung Karno, bukan peristiwa konstitusional, melainkan peristiwa revolusioner. Maka, proklamasi kemerdekaan disebut “jembatan emas” menuju tanah seberang. Di tanah seberang itulah dibayangkan kehidupan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Kesejahteraan dan kemakmuran, pun ketenteraman dan keamanan, dirasakan rakyat secara keseluruhan. Karena itu, di tanah seberang, politik harus diperjuangkan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Politik Indonesia harus dikembalikan pada jati dirinya sebagai salah satu jalan mewujudkan cita-cita kemerdekaan.


Negara harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat. Negara harus mengatur pamrih ekonomi dan turunannya dalam kerangka keadilan sosial. Kata Bung Karno, semua buat semua. Bukan buat satu orang. Juga bukan buat satu golongan. Keringat semua buat kebahagiaan semua. Cak Lontong, buat saya, lebih bermakna dibaca sebagai simbol pengembalian politik pada jati dirinya. Bukan makna elektoralnya.


JPS, 9 Desember 2024



Rabu, 04 Desember 2024

PDIP DAN KECINTAAN PADA LINGKUNGAN

 PDIP  DAN  KECINTAAN PADA LINGKUNGAN


Sabtu, 24 Agustus 2024

Minggu, 18 Agustus 2024

GANDI_ : TUJUH DOSA POLITIK

 GANDI_ : TUJUH DOSA POLITIK

Gandhi pernah menyebut tujuh dosa sosial, yakni

1.       politik tanpa prinsip,

2.       bisnis tanpa moralitas,

3.       pengetahuan tanpa karakter,

4.       kaya tanpa kerja,

5.       kenikmatan tanpa hati nurani, dan

6.       ibadah tanpa pengorbanan diri.

7.       Kemunafikan bisa saja ditambahkan sebagai dosa sosial baru. Kemunafikan bisa diartikan sebagai beda lisan dan perbuatan. Karena itulah sangat wajar jika tingkat kepercayaan publik pada partai politik tergolong rendah. Itulah yang diingatkan Charles de Gaulle, pimpinan militer di Perancis. Charles mengatakan, “Politisi tidak pernah percaya pada omongannya sendiri. Mereka justru terkejut jika rakyat memercayainya.”

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kotak Kosong atau Calon Perseorangan", Klik untuk baca: https://nasional.kompas.com/read/2024/08/18/06581401/kotak-kosong-atau-calon-perseorangan?page=3.

Penulis: Budiman Tanurejo

Editor : Sandro Gatra

Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6


JPS, 19 Agustus 2024. 


Rabu, 14 Agustus 2024

BELAJAR DARI AHOK

 BELAJAR DARI AHOK

Polotisi  Educator . 

https://www.youtube.com/watch?v=7nxcKHd_MLw



NB:  Dalam  latar belakang podcast  ini,  ada  photo Akbar Faizal (Host), lalu ada tulisan: 

"Catatakan sejarahmu sendiri". 


BISNIS MODEL  PEMERINTAHAN


Ahok  itu  figur yang jujur,  berintegritas,  berani, 



Ahok orang daerah, Bangka Belitung.  Tapi mau menjadi  pemimpin di Jakarta. Apa yang mendorong Ahok  mau  menjadi  pemimpin di Jakarta?  Inspirasi  rohani,  yakni St. Paulus  yang  ketika ada  masalah dalam hidupnya dan diiselesaikan secara  hukum,  St. Paulus merasa  tidak puas lalu dia rencana naik banding  ke Roma. Dalam  kiasan sejarah, Roma iru merupakan pusat pemerinathan Romawi.  Berisnpirasikan  St. Paulus yang  mau ke Roma,  Ahok mau ke  Jakarta. 



"Kalian mesti  sekolah baik-baik,  Rakyat  butuh kalian.  Kamu bisa bayangkan, kita pengusaha saja  bisa ditekan orang,  

Pepatah Tiongkok  kuno:

Orang  miskin jangan melawan orang kaya,  tidaka akan menang kamu. 

Orang kaya  jangan  nenantang  pejabat, bangkrut kamu. 

Kamu cocoknya harus jadi pejabat supaya  bisa membantu orang miskin sekligus   bisa melawan pejabat yang lalim. 

"Uang itu penting tapi  harus kita yang jadi tuannya. 



JPS, 15 Agustus 2024. 


**************

https://www.youtube.com/watch?v=uoO7rTR6T-Q

Polotisi  Educator . 


"Rekam jejak (treck record) itu penting. 



Orang  China   mengenal 4C:

Chen Lee (Cen li) = .......

Cin cai =

Cuan = uang (?)

Chiat (?) = makan 




Selasa, 13 Agustus 2024

PILGUB NTT 2024

 PILGUB  NTT 2024


Rabu, 13 Maret 2024

3 FUNGSI DPR

 3 FUNGSI DPR


  1. Legislasi: Membentuk UU  yang  berpihak  kepada rakyat. 
  2. Anggaran:  Bagaimana anggran pemerintah masuk ke  daerah /  provinsi / kabupaten / kecamatan /desa. 
  3. Monitoring / Pengawasan :  Apakah kebijakan dan anggrain negara  sampai kepada masayarakat. 


JPS, 13 Maret 2024. 


Watu Kalula

Puskesmas Watukalula


Selasa, 12 Maret 2024

KEPALA DAERAH BERPRESTASI

 KEPALA DAERAH BERPRESTASI


Bupati Kainama  Papua , Fredy Thie , bupati fenomenal. 

JPS, 12 Maret 2024. 



Rabu, 21 Februari 2024

MENGAPA GANJAR MAHFUD KALAH DALAM PILPRES 2024?

 MENGAPA GANJAR MAHFUD KALAH DALAM PILPRES 2024?

  1. Komunikasi ketua Umum PDIP - Ibu Megawati Soekarno Putri -  sangat  buruk terhadap Presiden yang  merupakan kader emasnya.  Terkesan, Ibu  Mega  tak terlalu respek bahkan meremehkan kader emasnya, Joko Widodo  yang menjadi  Presiden RI. 
  2. Ganjar  dan partainya - PDIP    terlalu jumawa, merasa  kuat sendiri, sehingga tak perlu kolisi dengan  partai lain. Sikap jumawa (terlalu percaya diri) ini  itu yang membuat mereka  dijauhi partai-partai lain dlam PEMILU 2024.
  3. Ibu Megawati salah memilih  wakil  presiden untuk mendampingi Ganjar.  Pa Mahfud tidak memiliki efek atau pengaruh elektoral atau basis massa yang mendukungnya. Bahkan di  Madura, tempat kelahirannya, Ganjar Mahfud kalah. Orang Madura  cenderung memilih 02, Prabowo - Gibran.
  4. Partai pengusung dan paslon   Ganjar - Mahfud  dalam masa kampanye  menyerang Jokowi, harusnya meyampaikan  visi - misi  dan  program kerja.   Capres - Cawapres 02 , Prabowo Gibran  menerapkan politik  riang gembira, gemoy dan santuy. 
  5. Masyarakat, terutama pencinta bola sangat kecewa dengan Ganjar yang menolak  Piala Dunia U 20 di Indonesia tahun 2023, yang akhirnya  FIFA  memindahkannya ke Argentina.
  6. PDIP  arogan , terutama pimpinannya -, Megawati. 
  7. Ada dugaan  pelanggaran yang  dilakukan terstruktur, sistematis dan masih yang dilakukan oleh rezin  penguasa  (Presiden Joko  Widodo).

Senin, 12 Februari 2024

POLITIK PEMBANGUNAN CINA

 POLITIK PEMBANGUNAN CINA: MEMBANGUN PARIWISATA DI TEMPAT YANG SULIT


https://youtube.com/shorts/ZVjI4_wVUKE?si=QIKPIOhWlKV-a93i

https://youtube.com/shorts/IxFfcMUHDiY?si=1j65Bfjn_S8e4Fts


Di tempat  yang  curam, wilayah yang sangat menantang, pemerintah Cina  membangun  jembatan kaca di Ruhi (Rui).  Jembatan  ini menghubungkan suatu tempat yang  curam dengan tempat lainnya.  Jembatan ini berbentuk melenggung. Tmpak begitu semourna  dan  agar sukar dipahami bagaimana  mereka membuatnya.  Jembathan Ruhi (Rui) ini tampak sempurna. Saya menonton  ini dengan pelbagai rasa, kagum, heran, bingung  terutama  bagaimana  para  pekerja  mengerjakan  proyek jembatab ini.  Teknologi apa yang  mereka pakai untuk mengerjakan  jembatab ini?   Saat saya  menonton video jembatan ini, sangat gugup. Bayangkan  bila  berjalan di sana, wow.....  nyali tampaknya ngacir. 

JPS, 13 , 29 Feb. 2024. 





***
Walking the plank (papan) walk at Mount Hua (Hua Shan) located near the city of Huayin in Shaanxi province, about 120 kilometres east of Xi'an, China.

***


https://www.youtube.com/watch?v=iUMBQugUtVQ
Hua Shan Cliffside Plank Walk (Jalan Papan Tepi Tebing Hua Shan)


*****


https://youtube.com/shorts/RMmutn0m1Lo?si=8PrzSQXBl9RZwhKu

Pemandangan yang sangat indah di Pegunungan Shaohua , Shaanxi, China. 

Ada jalan  dan rumah yang  tergantung  di tebing.  Indah sekaligus menteramkan. 



BERPOLITIK ALA AHOK (MANATAN GUNERNUR JAKARTA) DAN FX RUDY (MANTAN WALI KOTA SOLO)

 BERPOLITIK ALA AHOK (MANATAN GUNERNUR JAKARTA) DAN FX   RUDY (MANTAN WALI KOTA SOLO)

https://www.youtube.com/watch?v=dvn6738Q5N4

Martin Luther Junior: Kalu nggak ada kekuasaan, kurang  darah dan sentimentil. 



**********
https://www.youtube.com/watch?v=LPgwEa_54q0

Prinsip hidup (politik) Pa Rudy:

Disiplin dan jujur



Minggu, 04 Februari 2024

METAFISIKA CINA DAN RAMALAN PILPRES 2024

 METAFISIKA CINA DAN  RAMALAN PILPRES  2024

https://www.youtube.com/watch?v=qZzUB8Vis6A

SIO PARA PRESIDEN RI

  1. Soekarno: Kerbau
  2. Soeharto : Ayam
  3. Habibie: Tikus
  4. Gus Dur: Babi
  5. Megawati: Anjing
  6. Susilo Bambang Yodoyono (SBY): Kerbau
  7. Joko Widodo: Kerbau
SIO PARA CAPRES - CAWAPRES 2024:
  1. Anis Bawedan - Muhaimin : Ayam - Babi
  2. Prabowo - Gibran : Kelinci - Kelinci. Peluang menangnya 20 %
  3. Ganjar - Mahfud :  Monyet - Ayam 
JPS, 5 Februari 2024.