Senin, 23 November 2020

CHAPLIN DAN SEPAK TERJANGNYA

 

Sang Bandar Chaplin Pun Akhirnya Keluar Sarangnya Karena Kepanasan


Oleh:

Rudi S Kamri


Selama ini sudah menjadi rumor luas di masyarakat tentang siapa sponsor atau bandar kepulangan MRS ke Indonesia. Publik bertanya-tanya siapa yang membayar denda "over-stay" MRS dan keluarganya yang cukup besar dan biaya tiket dari Arab Saudi dan lain-lain. Hampir semua orang berakal sehat meyakini bahwa itu semua uang itu tidak mungkin keluar dari kantong MRS pribadi apalagi dari kas organisasinya. Dan kemudian setiba di Indonesia MRS langsung tancap gas gigi lima, buat hajatan perkawinan anaknya besar-besaran disambung dengan peringatan Mauludan di jalanan. 


Di panggung itu MRS terlihat merasa terlalu percaya diri menyerang siapa saja membabi-buta tanpa etika. Sedari awal saya meyakini, keyakinan diri seorang MRS yang berlebihan itu karena merasa didukung sepenuhnya bandar besar yang masih merasa penguasa negara. Bahkan dia menantang negara untuk safari keliling Indonesia dengan manipulasi kemasan tabliq akbar jangan coba-coba dihalangi. 


Analisa politik plus teori otak-atik gatuk pun langsung saya mainkan. Siapa sebenarnya sang bandar pemegang lisensi alias promotor utama yang begitu jumawa merusak tatanan negara? Sedari awal saya meyakini bahwa MRS hanyalah alat atau wayang yang dimainkan sang dalang. Dalang yang mempunyai jaringan luas ke seluruh sendi kehidupan negara. Dalang yang mempunyai sumberdaya yang tak terbatas dan punya rekam jejak hitam suka memainkan skenario konspirasi besar. 


Dialah SANG CHAPLIN !!!


Sudah menjadi rahasia umum Sang Chaplin ini mempunyai kaki tangan di segala lini. Mulai di institusi aparat keamanan negara, beberapa pejabat negara dan beberapa di partai politik. Meskipun orang-orangnya sudah tidak lagi memegang kendali di posisi sentral resmi di organisasi, tapi saya meyakini masih cukup kuat membangun jaringan. Alat Chaplin di pemerintahan sudah terbaca luas, salah satunya adalah Gubernur Ibukota yang menjadi pion kesayangannya. Sedangkan di partai sudah bisa ditebak dengan terang benderang saat mengapa tiba-tiba Fraksi milik Pak Brewok di DPRD DKI Jakarta membela membabi-buta Gubernur DKI Jakarta. Kemudian salah seorang kaki-tangan Chaplin yang menjadi pimpinan Partai Kuning juga membangun narasi si Kuning siap menjadi kendaraan politik bagi MRS. Hmmm......


Oh ya, kepulangan MRS sebelum Pilkada Serentak 9 Desember 2020 juga bukan hal yang kebetulan. Menurut saya sudah pasti didesaian oleh Sang Chaplin untuk kembali mengobarkan politik identitas ke seluruh pelosok negeri seperti di Pilgub DKI Jakarta 2017. Tujuannya jelas Sang Chaplin ingin menanam saham kepada Kepala Daerah di seluruh pelosok negeri agar bisa mengendalikan politik dan sumberdaya ekonomi sebanyak mungkin.


Saya meyakini sebagai promotor utama atau pemegang lisensi MRS, Chaplin tidak sendirian. Pasti ada Co-Promotor yang mendukungnya khususnya dalam hal pendanaan. Nah di posisi kerjasama harmonis tapi bengis ini maka lahirlah Kelompok Mafioso Trio-C, yaitu Chaplin - Cendana - Cikeas. Dan tentu saja yang bertindak sebagai arranger adalah si kumis tipis Sang Chaplin. Skenario menguasai negara dengan memainkan wayang MRS langsung dimainkan.


Tapi skenario besar Trio-C berantakan ambyaaar berkeping-keping saat ternyata secara tidak diduga Presiden Jokowi menggeram dan menggebrak melalui Kapolri dan Panglima TNI. Peluit politik negara tertinggi membuat TNI-Polri kemudian langsung gebrak unjuk gigi. TNI  dengan operator lapangan Pangdam Jaya dan Polri melalui Kapolda Metro Jaya yang baru. 


Perlawanan negara dengan komandan utama Presiden Jokowi ini saya duga tidak diprediksi oleh Kelompok Mafioso Trio-C. Apalagi Sang Chaplin kelihatannya juga sudah menjalin komunikasi intens dengan sang penggantinya di pemerintahan. Teori komunikasi antara Sang Chaplin dengan penggantinya di pemerintahan mendapat pembenaran nyata saat sang Kyai si pengganti ini dari awal selalu bersikap manis kepada MRS bahkan konon akan menerima MRS di istananya. 


Prediksi Presiden Jokowi bahwa tidak akan berani menggerakkan TNI Polri dan keyakinan terlalu kuat ada jejaring Sang Chaplin di istana lamanya membuat selama ini Sang Chaplin nyaman di persembunyian. Tapi saat mengetahui skenarionya berantakan dihantam kenyataan, akhirnya Sang Chaplin muncul ke permukaan dengan membangun narasi memuji-muji MRS sebagai pemimpin kharismatis. Chaplin juga menyerang Presiden Jokowi dengan mengatakan bahwa saat ini terjadi kekosongan kepemimpinan nasional. Suatu narasi sesat dari orang yang terbongkar kedoknya.


Nah, sekarang Sang Chaplin sudah membuka topengnya menampilkan diri. Kini tinggal keberanian Presiden Jokowi untuk menggerakkan lebih kuat dan keras tapi terukur politik negara dengan memainkan TNI Polri dan dukungan Partai Koalisi yang tersisa untuk menghantam Kelompok Mafioso Trio-C yang dimotori Sang Chaplin. Presiden jangan lagi kehilangan momentum karena saat ini dukungan masyarakat Indonesia sangat luas untuk membersihkan kerak-kerak bangsa yang selalu mengganggu stabilitas keamanan negara.


Presiden Jokowi tidak boleh ragu lagi, karena kekuatan politik negara saat ini mengumpul solid di tangannya. Langkah kongritnya adalah pertama, gembosi kekuatan Sang Chaplin melalui penangkapan MRS yang sudah cukup bukti untuk ditersangkakan. Kedua, bersihkan anasir-anasir di pemerintahan yang terindikasi kuat telah menjadi kaki tangan Sang Chaplin seperti Si "Penyumbang Masker" dan beberapa menteri titipan Sang Chaplin lainnya. Ketiga, lumpuhkan kekuatan Sang Chaplin dengan menggerakkan semua potensi yang ada untuk kembali bisa menguasai PMI dan Dewan Masjid Indonesia. Ini penting agar jaringan Sang Chaplin langsung terputus di semua lini. Dan langkah terakhir dari Presiden adalah menjewer dan mengendalikan dengan tali kekang yang lebih kuat, agar sang wakil jangan liar main dua kaki.


Teori membakar semak yang menjadi sarang ular beludak telah sukses dimainkan Presiden Jokowi, sehingga raja beludak kepanasan keluar sarang dan berkoar-koar di jalanan. Tinggal tunggu waktu yang tepat untuk melumpuhkan. Langkah awalnya adalah dengan menggergaji habis kaki-tangannya. Presiden Jokowi harus yakin diri, raja beludak dengan bertambahnya umur sudah tidak selicin ala kancil seperti dulu lagi. Kumis tipisnyapun semakin luruh mengikis. 


Selalu ada saatnya Tuhan menghentikan kelakuan kriminal Sang Iblis. Melalui ambisinya dan melalui kepongahannya. Dan ini saatnya.......


Salam SATU Indonesia

21112020

_______________________________________________________________________


Meski panjang dibaca sampe habis ya...slh satu knp Chaplin kesal sama JKW... 👇


CERITA TENTANG LION AIR I Dulu di masa Orde Baru ada anekdot, kalau dalam sebuah keluarga, anaknya ulang tahun dihadiahi pesawat televisi itu sudah mewah banget. Tapi coba tengok bagaimana Soeharto memberi hadiah pada anak2nya, hadiah ulang tahunnya stasiun televisi. Perbandingan yang sangat njomplang dan menyakitkan di masa lalu. Coba kita segarkan ingatan, bagaimana Tutut diberi TPI (sebelum jadi MNC yang kemudian jadi kasus gugat menggugat berkepanjangan) atau Bambang Tria dengan RCTI-nya. Pun anak2nya yang lain, yang walau tak seberapa besar tapi memiliki saham di SCTV atau Indosiar. Luwar biyasah....


Tapi cerita brengsek seperti ini, rupanya bukan sembuh tapi semakin mengerikan di era reformasi ini. Puncak dari cerita gak masuk akal, yang pernah saya catat adalah kasus pembelian pesawat oleh maskapai Lion Air yang belakangan sangat berbau KKN. Ini hanya repeat-story in different case:  ketika seorang penguasa ingin mewarisi anak2nya, tidak hanya satu dua pesawat. Tapi ratusan.....


Secara teknis, Lion AIR didirikan dan dimiliki oleh Rusdy Kirana. Seorang pengusaha yang memulai bisnisnya dari penjualan tiket dan agen perjalanan. Bagaimana bisa dia lalu membesar sedemikian rupa? Bisa, apa yang gak bisa di negara para bedebah ini. Selama negara, masih mau penjamin buat proyek mereka. Apa sih yang tidak bisa digoreng. 


Ini adalah sebuah cerita fantastis, tentang debuah kasus pembelian pesawat komersial terbesar di dunia yang pernah ada. Pembelian dalam jumlah besar pertama, dilakukan oleh  maskapai berlogo singa ini pada November 2011. Kala itu, Lion Air dan Boeing mengikat komitmen bersejarah dengan  pemesanan pesawat tipe B-737 sampai dengan 380 unit. Rinciannya,  sebanyak 201 unit pesawat jenis B-737 MAX dan 29 unit armada tipe  B-737-900ER Next Generation senilai $21,7 miliar. Itu pesawat beneran, bukan pesawat mainan.


Belum selesai sampai di situ, pada Maret 2013, Lion Air Group juga menambah koleksi armada dengan memesan 234 unit pesawat Airbus A320 buatan pabrik Airbus. Dunia kedirgantaraan nasional maupun internasional gempar. Presiden Perancis saat itu, Francois Hollande, turut menjadi saksi seremonial penandatanganan kontrak pembelian. 


Perjanjian  dilangsungkan di Istana Elysee, Paris, Perancis. Pembelian ini membuat  Lion Air Group merogoh kocek sampai dengan 18,4 miliar Euro atau setara  Rp230 triliun. Pada November 2014, Airbus mengirimkan tiga unit pertama  A320 pesanan Lion Air Group. Pengiriman awal ini diperuntukkan bagi anak usaha Lion Air Group yaitu Batik Air.


Dan kegilaan itu masih berlanjut, pada November 2014, Lion Air Group juga mengikat kontrak pembelian  40 unit pesawat turboprop baru jenis ATR72. Nilai total pembelian  pesawat jet tersebut menyentuh angka $1 miliar. Prosesi penandatanganan kontrak disaksikan oleh Perdana Menteri Italia  yang kala itu menjabat, Matteo Renzi. Seremoni pun digelar di kantor  pemerintahan Italia yaitu Pallazo Chigi – Piazza Colonna.


Bagaimana mungkin, sebuah perusahaan swasta bisa sedemikian perkasa, Memiliki akses langsung ke tiga negara berbeda: AS, Perancis, dan Itali dalam waktu yang nyaris berurutan, tak berselang lama?  Bagaimana mungkin, seorang Rusdi Kirana, bisa sedemikian perkasa? Apa iya tak ada itung2an kelayakan usahanya?


Belakangan jawabnya sederhana: ada keterlibatan negara sebagai penjamin hutang tersebut!  Bila yang pertama dituding adalah eks-Wapres Yusuf Kalla, belakangan juga melibatkan Sang Presidennya- SBY. Negara tiba2 terlibat sebagai penjamin utang swasta untuk bisnis dengan resiko tinggi. Hawong, maskapai milik negara saja dikelola dengan amburadul, hakok ini mau menjamin swasta yang kadang bekerjka sak karepe dewe.


Hal ini sempat jadi bisik2 heboh, kenapa Lion Air yang sedemikian bermasalah dalam manjemennya. Sering kecelakaan, tak sekali dua membataklakan penerbangan, dan yang tersering menunda jadual seenak udelnya sendiri. Nyaris tanpa sanksi yang berarti. Belum lagi tunggakan pada PT Angkasa Pura sebagai pengelola bandara maupun Pertamina sebagai penyedia bahan bakar. Dan pihak2 ke tiga lain, yang kalau diinventarisasi satu persatu tak terperi banyaknya. 


Dan nasib buruk tersebut semakin sempurna, ketika pandemic Covid-19 datang. Kondisi yang sudah buruk, tiba2 semakin buruk. Semua maskapai dilarang terbang, tanpa kecuali nyaris selama 6 bulan. Hawong pembatalan satu penerbangan saja efeknya panjang, lah ini ini 6 bulan gak beroperasi.....


Kadang orang malas berpikir, bagaimana mungkin Rusdy Kirana yang selama ini justru dianggap pemilik dalam situasi rumit perusahaan miliknya justru ia dipilih dan ditempatkan sebagai Dubes di Malaysia. Bagaimana ceritanya, ketika patron politiknya berkuasa di Golkar dan Demokrat, justru ia bergabung dengan PKB. Yang sejenis dan senasib Rusdy Kirana ini di Indonesia banyak, banyak sekali. Usaha merintis dari bawah, di tengah jalan dibajak politisi. Dan akhirnya dan berakhir sebagai hanya menjadi pseudo owner: pemilik bayangan....


Jadi jelas ya, kalau tiba2 ada orang yang tergopoh2 bawa duit sekoper pergi ke Mekkah untuk menjemput Si Imam Besar. Ia tahu betul, bahwa hanya dialah yang bisa menjadi kelompok penekan pemerintah. Ia satu2nya yang bisa terus menteror pemerintah yang sah agar tujuannya tercapai. Apa tujuannya? 


Yah, nalangi utanglah! Dan sialnya pemerintah, punya "saham kesalahan di masa lalu". Karena bersedia sebagai penjamin. Dan disinilah SBY dan JK satu kepentingan, bukan saja mengubur kasusnya, tapi nagih janji si pemerintah. Nah, si koppig Jokowi boro2 mau, hawong untuk mengatasi pandemic saja repotnya cari utangan kesana kemari. Hakok nalangi bayar utangan pesawat yang di atas kertas, cepat atau lambat pasti bangkrut....


Ini, hanya salah satu kasus betapa jahatnya kroni oligarki di Indonesia. Mereka yang kehilangan peran, akan kembali cari pijakan. Sayang, hitungan yang njlimet itu ambyar, hanya karena si Imam Besar keceplosan menantang TNI. Sesuatu yang sebenarnya gak perlu. Ia bodoh? Pendukungnyalah yang bodoh, menganggap ia tak akan terpeleset. Ia kena karma Ahok...


Dan, si bohir kembali manyun. Mimpinya untuk menjadi pesaing Air Asia mati terlalu dini. Ia akan terus menakut2i publik, bahwa matinya Lion Air akan menghilangkan penerbangan berbiaya murah: dimana setiap orang bisa naik pesawat.  Suatu halusinasi kuno yang akan terus ditiupkan. Negara saya yakin, dan seharusnya tidak boleh terlalu peduli oleh ilusi begitu. Dalam konteks ini saya hanya kasihan pada nasib Rudy Kirana. Tapi buat apa juga!


Oh ya, ini hanya satu kasus. Masih belasan lain yang mengantri di belakangnya. Tapi buat apa saya bercerita, dari titik ini saja harusnya lebih dari cukup untuk membantu menyelamatkan uang negara. Bagaimana menolak kekuasaan para begundal yang sadisnya minta ampun. Semoga negara jangan mau dijadikan sapi perahan oleh para perompak  itu....

.

.

.

NB: Gara2 tulisan saya terdahulu, edisi Gatra terbaru berani menunjuk hidung Tiga Sekawan Pencoleng ini. Dalam kasus kali ini, Cendana bisa cuci tangan bersih sekali. Entah kalau nanti yang disasar duit bapak mereka yang digangsir itu. 


Masih percaya Bela Islam, Bela Ulama. Bela Maling sih iya....